“Bersaing secara sehat membuat kita makin semangat. Memaknai hidup ini agar selamat dunia akherat membuat kita makin sehat.” -Mas Redjo
…
Saya bersyukur, sangat bersyukur. Ketika hati saya disentuh dan diingatkan Tuhan. Tentang arti dan tujuan hidup ini. Sebenarnya, apa yang saya cari?
Tiba-tiba ambisi saya runtuh total. Bukan karena gagal usaha atau kecewa dalam hidup ini. Melainkan kesadaran itu muncul dari teladan kesaksian Yohanes Pembaptis yang rendah hati tentang Yesus. Ia tidak menarik perhatian pada diri sendiri, tapi ia menunjuk kepada Yesus.
“Lihatlah Anak Domba Allah!”
Lebih daripada itu. Kesadaran dan kerendahan hati Yohanes Pembaptis itu sangat menginspirasi dan memotivasi kita untuk meneladaninya.
“Dia harus makin besar, tapi aku harus makin kecil” (Yoh 3: 30).
Saya jadi malu, semalu-malunya. Ketika membanding-bandingkan Yohanes Pembaptis dengan diri sendiri itu ibarat bumi dan langit.
Selama ini saya tidak mau disaingi orang lain. Karena ingin jadi yang terbaik, terhebat, dan ter-ter yang lain. Hal itu yang membuat saya termotivasi untuk bersaing dan berjuang pantang menyerah untuk jadi yang terbaik.
Ternyata, ketika hidup ini sekadar menuruti ambisi demi pengakuan, pujian, dan dihormati itu membuat saya mudah emosi, stess, lelah, dan jauh dengan keluarga.
Gaya hidup gengsi membuat saya jadi tinggi hati. Saya membatasi diri dalam bersosialisasi. Pikiran, tenaga, dan waktu saya terpatri kepada hasil pencapaian yang tiada ujungnya itu.
“In Omnibus Christus,” dalam semuanya adalah Kristus. Itulah keutamaan spiritualitas Yohanes Pembaptis yang membuat saya sadar untuk berubah, perbaiki diri, dan jadi baik.
Saya bertekad untuk memaknai hidup ini dengan mengutamakan dan mendahulukan Tuhan, tidak untuk muasin ego dan gengsi.
Jalan hidup saya berubah drastis. Semula hobi mengumpulkan materi, kini lebih religius dan senang berbagi. Bahkan secara perlahan-lahan dunia usaha mulai saya jauhi.
Banyak relasi yang penasaran dan heran dengan perubahan sikap itu, tapi saya menanggapi dengan senyuman dan santai.
“Untuk segala sesuatu itu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya” (Pengkhotbah 3: 1).
“Tetapi banyak orang yang terdahulu akan jadi yang terakhir, dan yang terakhir akan jadi yang terdahulu” (Mat 19: 30).
Di usia yang makin senja ini saya melangkah pasti menapaki karya dan karsa dalam penyertaan Tuhan. Karena IA setia.
…
Mas Redjo

