Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Main air akan basah, main api akan hangus”
(Peri Bahasa Bangsa)
…
Dunia kita dan kehidupannya sudah sangat memahami serta percaya akan kebenaran dari “hukum tabur tuai.” Maka, orang akan sangat berhati-hati di dalam hidupnya. Ia berusaha menjaga lisannya dan ketat mangatur sikap serta tindakannya. Bahkan sebelum kita berada di atas jagad ini, kakek dan nenek kita telah memahami kebenaran dari hukum tabur tuai ini? Hal ini sudah terbukti dari adanya peribahasa klasik, “Barang siapa bermain air, maka dia akan basah, dan barang siapa bermain api, maka dia akan terbakar.”
Apa itu Hukum Tabur Tuai?
Inilah sebuah hukum universal yang berupaya untuk mengedukasi kita untuk selalu berhati-hati dalam perkataan dan tindakan. Bahkan masyarakat sangat meyakini kebenaran sebuah petuah, bahwa “Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai.” Jika kita sungguh mencermati akan fenomena alam ini serta setiap peristiwa yang menimpa manusia, maka kita dapat menyimpulkan, bahwa hukum tabur tuai adalah bagian yang tak terpisahkan dari hukum alam.
Roda Kehidupan itu Berputar
Riil pula, bahwa sesungguhnya
roda kehidupan itu senantiasa berputar dan hukum tabur tuai itu nyata. Bahkan keduanya seolah-olah jadi sinyal yang mengisyaratkan agar manusia perlu hidup sadar dan berhati-hati dalam beraktivitas. Manusia perlu menyeimbangkan dan menyelaraskan seluruh gerak hidupnya dengan gerakan alam serta hukum kehidupan. Janganlah bersikap dan bertindak semena-mena serta semau gue. Mengapa? Bukankah kehidupan ini senantiasa akan berubah ibarat roda sebuah pedati?
Kebenaran dan fakta hidup telah membuktikan akan dampak nyata sebagai ekses dari dasyatnya hukum tabur tuai dan hukum alam ini. Bahkan keduanya sudah dipandang sebagai hukum kehidupan yang berdampak riil serta bersifat langgeng. Oleh karena itu, hendaklah kita hidup dengan berhati-hati dalam seluruh aktivitas harian kita.
Amanat bagi Kehidupan
Aspek kebermanfaatan apa yang dapat diperoleh sebagai sari-sari penting bagi kehidupan kita? Di sini, lewat tulisan ini, kita diajak untuk senantiasa sadar dan berhati-hati bertindak di dalam relungan waktu kehidupan yang sangat singkat ini. Alangkah arifnya, jika ternyata kita sanggup untuk mengendalikan diri dalam bertutur dan bersikap. Berbahagialah Anda yang senantiasa sadar dan tahu diri! Nosce te ipsum, “Kenalilah dirimu,” demikian amanat dari sang kebijaksanaan.
Tuturan sang Arifin
“Jika aku bersalah, maka aku sebaiknya segera meminta maaf. Jika aku berdosa, alangkah baiknya, jika aku rela untuk segera bertobat!” Inilah deskripsi hidup, berupa tawaran kebijaksanaan!
Cogito Ergo Sum!
…
Kediri, 10 Januari 2025

