Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Kaya bukan berarti bahagia, bahagia tidak harus kaya”
(Amanat Kehidupan Sejati)
…
Suatu hari seorang Raja bertanya kepada orang Bijak, “Saudara, bagaimana caranya agar saya bisa meraih kebahagiaan?” Sang Bijak itu menjawab, “Oh ya, carilah seseorang yang paling bahagia di dalam Kerajaan Tuan dan pakailah bajunya.”
Mendengar jawaban serius itu, Raja lalu segera memerintahkan kurirnya untuk mengelilingi seluruh negeri agar dapat menemukan seseorang yang paling bahagia.
Beberapa bulan kemudian si kurir menghadap baginda Raja dan berkata, “Paduka, saya telah menemukan seorang yang paling bahagia. Tapi maaf Paduka Raja, orang itu ternyata, sepotong baju pun ia tidak punya.”
(Berguru pada Saru)
Ekstrem namun Bermakna
Kisah reflektif ini mungkin terkesan sangat ekstrem dan berlebihan. Tapi sesungguhnya, di balik kisah ini terselip amanat kehidupan yang dalam dan sarat makna.
Bukankah kita juga hidup dalam dunia yang masyarakatnya super sibuk mencari dan mengumpulkan aneka harta, namun selalu merasa hampa serta menderita kesepian? Hal inilah yang membuktikan, bahwa ‘kaya bukan berati bahagia, dan bahagia tidak harus kaya.’
Bukankah di sekeliling kita terdapat banyak orang yang berkelimpahan harta, tapi apakah sekaligus mereka pasti sangat bahagia? Juga sebaliknya di sekeliling kita terdapat orang-orang yang hidupnya hanya dengan harta seadanya dan apa adanya, dalam konteks ini apakah berarti mereka itu pasti tidak bahagia? Ternyata kondisi sejatinya di antara kedua keadaan ekstrem itu sangat relatif.
Misi dari Tulisan ini
Lewat tulisan ini, Penulis mau mengajak semua orang agar di dalam hidup yang sangat singkat ini, kita tidak tergiur dan terpedaya untuk sibuk mengumpulkan harta semata. Kita tidak dilarang untuk memiliki harta, tapi bagaimana orientasi sikap batin kita? Apakah seluruh konsentrasi hidup ini kita fokuskan hanya untuk mencari harta semata yang tidak jarang justru kian menjerumuskan ke dalam sikap gila harta? Itulah persoalan mendasar di dalam praktik hidup ini.
Bukankah kebahagiaan sejati itu justru tidak didasari oleh kelimpahan harta? Namun justru didasari oleh sikap hidup yang selalu tahu bersyukur dan sanggup menerima sebuah kondisi hidup yang apa adanya. Karena bukankah suatu kebahagiaan sejati itu adalah kondisi suasana batin manusia yang bebas dari berbagai ikatan dan kelekatan kepada hal-hal yang bersifat duniawi? Maka, hendaklah di dalam hidup ini kita senantiasa belajar untuk mencukupkan diri kita dengan dimiliki. Semoga kita selalu sadar dan berusaha untuk tidak jadi hamba atas harta duniawi.
Sungguh berbahagialah, jika ternyata Anda masih mengingat dan mempraktikan kebenaran dari pengajaran Yesus, bahwa “Di mana hartamu berada, di situ pun hatimu berada.”
Semoga pesan moral dan spiritual dari pengajaran Yesus itu jadi pegangan hidup agar kita tidak terperangkap dalam godaan untuk mengumpulkan harta semata.
…
Kediri, 8 Januari 2025

