Simply da Flores
…
1.
Irama roda kereta mengalun
terngiang syair lagu Yogyakarta
dan
sambil menahan kantuk malam ini
aku bergumam lirih menyebut
“Yogyakarta, aku pulang.
Segera kususuri memoarku
adakah masih tersimpan di wajahmu”
2.
Bukan lagi di stasiun Tugu
aku turun di stasiun Lempuyangan
Bingung mencari kendaraan biasanya
untung anakku siap menjemput
Kami pulang ke rumah
sepanjang jalan dibelai tanya
Wajah kotaku makin milenial
mungkin inilah kemajuan pembangunan
Yogya yang dulu pudar
kotaku sudah berinkarnasi
3.
Bertemu orangtua dan anak-anak
masuk ke rumah tempat lahirku
Ada yang sama tetapi banyak berubah
Waktu telah mencatat nostalgia
usia sudah melewati kenangan
Kami ada dan terus menjadi
sekarang adalah fakta bergelora
kemarin telah jadi sejarah
besok pasti datang menghampiri
4.
Di atas jejak-jejak nostalgia
harus kuterima semua perubahan
Dalam diriku beragam pengalaman
usia kami terus bertambah
Dalam diri orangtua dan sanak saudara
aneka kisah telah tergores
Dalam diri anak-anakku
bermacam cerita terus dilalui
Apalagi wajah kota kelahiranku
Yogyakarta bukan lagi yang kemarin
5.
Masih kuat ingatan kisah lampau
dari para eyang sepuhku
Ternyata kisah cerita tak berbeda
selalu ada jejak-jejak nostalgia
Waktu terus berjalan lestari
perubahan adalah nafas zaman
Setiap pribadi dan lingkungan ikut berubah
Nostalgia kemarin dan fakta hari ini
menjadi sejarah kehidupan bersemi
Setiap zaman ada wajahnya
Manusia meraih makna dalam sejarah
Manusia menenun jejak dalam waktu
6.
Merindukan jejak di Malioboro
ternyata ribuan langkah telah bersemi
riasan zaman telah mengubah wajah
Mendambakan kenangan di Alun-alun Lor
ingin menemui catatan masa lalu
di halaman kembaran waringin putih
Ternyata jutaan kisah cerita
telah mengahalau syair tempo doeloe
Hampir semua bidang kehidupan
yang menjadi kekhasan kota lahirku
mungkin terkubur dalam buku nostalgia
7.
Pulang ke kotaku Yogyakarta
ingin menyusuri jejak-jejak nostalgia
Antara kisah cerita orangtua dan sanak saudara
dan dinamika tumbuh kembang anak-anakku
Antara Merapi dan Parang Kusumo
dalam deburan ombak dan debu kawannya
Antara Malioboro dan Tugu
dalam derap roda kendaraan zaman
Ada persaingan aneka kebijakan
8.
Aku pulang ke Yogyakarta
dan nanti kembali ke Metropolitan
setelah temukan syair kenyataan
Antara rindu damba dan harapan
dalam dinamika perubahan abadi
sebagai nafas irama waktu
Tidak semua harapan bisa menjadi kenyataan
Segala sesuatu memang ada waktunya
Kemarin tak mungkin kembali esok
Aku mesti berkreasi dan berinovasi
menjawab tanya siapakah aku ini
9.
Akhirnya waktu membawaku kembali ke dalam diri
harus terus aku sadari dan bisa pahami
Inilah fakta realitas dan hakikatnya
aku terus menambah jejak dalam usia
Aku berinkarnasi dalam nafas waktu
Aku mesti melukis makna pribadi
Entah apa yang mesti kuputuskan
tetapi aku harus melukis jejak-jejak
dalam dinamika nafas waktu
dengan energi jiwa raga sahaja
melebur dalam cahaya Sang Ilahi

