Hanya cerita tentang eorang aktivis Gereja, sejak kecil hidupnya tidak jauh dari altar. Ketika remaja dia sudah aktif jadi putri altar. Ketika dewasa dia jadi ketua lingkungan dan pernah juga jadi anggota DPH. Tak lama setelah periode DPH selesai, dia jadi prodiakon. Sungguh hidupnya nyaris semua untuk Tuhan, melayani-Nya.
Suatu sore, dia bertemu Romo Parokinya, mengeluh, bahwa “Romo, saya merasa hampa, kering, dan kosong. Yang saya lakukan seperti tidak ada rasa.”
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata hampa berarti sepi, tidak bergairah, atau kosong.
Lama, Romo itu tidak menjawab. Suasana jadi mencekam. Tiba-tiba, Ibu yang aktivis itu berkata, “Mungkin saya bertindak terlalu banyak, ‘ora sak cukupe’.” Lalu Ibu mohon pamit pulang.
Inti ‘sak cukupe’ adalah tidak berlebihan, tapi juga tidak kurang. Ibarat makan, seenak apa pun, jika berlebihan jadi hilang rasa, demikian hidup, termasuk melayani. ‘Sak cukupe’ dan harusnya ada saat untuk menikmati pelayanan itu, bukan hanya dijalani.
Marta, Marta… mengapa engkau begitu heboh? Adikmu, Maria, memilih yang terbaik.
Salam sehat.
…
Jlitheng

