“Hidup ini harus miliki visi misi yang jelas agar kita tidak disesatkan oleh keinginan sendiri.” -Mas Redjo
…
Tidak ada kata terlambat untuk berubah dan jadi baik. Karena yang terlambat itu adalah kita malas dan tidak mau ke luar dari zona nyaman.
Anugerah Tuhan senantiasa baru setiap hari agar kita hidup baru. Makin bertambah baik, dan kian berkenan bagi-Nya.
“Refleksi itu harus dihidupi agar hidup ini makin berarti dan bermakna.”
Kesadaran itu muncul, ketika hati ini dijamah Tuhan. Saya diingatkan oleh-Nya. Bahwa kasih Tuhan dinyatakan pada orang kecil, tapi tersembunyi pada mereka yang cerdik pandai (Luk 10: 21-24).
Jujur, selama ini saya selalu hormat dan menghargai pola pikir orang yang selevel, sederajat atau lebih tinggi. Saya melihat bungkusnya, tapi tidak pada materi atau isi yang disampaikan orang itu.
Ternyata, ibarat bumi dengan langit, jika saya dibandingkan orang Majus, para sarjana dan pencari kebenaran yang meninggalkan zona nyaman itu untuk menemukan Tuhan (Mat 2: 1-12). Mereka juga membawa emas, kemenyan, dan mur sebagai persembahan bagi Tuhan.
“Lalu, apa persembahan saya kepada-Nya?”
Saya diam menekur dan merenung. Tiba-tiba sebutir kesadaran jatuh menggelundung ke telaga sanubari saya.
Ternyata selama ini saya mengejar pengakuan dan kenikmatan dunia. Anehnya, saya merasakan hidup ini serasa kosong dan hambar, meski usaha saya mapan dan hidup tidak berkekurangan.
Orang Majus itu mengajar saya untuk berani dan tidak ragu-ragu ke luar dari zona nyaman.
Jika selama ini saya menjauhi dan menduakan Tuhan, kini saatnya saya melepas semua itu untuk mengikuti orang Majus menemukan Tuhan. Untuk mempersembahkan hidup ini sebagai pujian syukur atas karunia kasih-Nya.
“Tuhan, mohon bimbingan Roh Kudus-Mu agar saya taat dan setia pada kehendak-Mu,” doa saya lirih. Tidak terasa mata saya berkaca-kaca. Hati ini jadi plong dan lega.
…
Mas Redjo

