Saya share pendapat Rm Dr Darmin Mbula OFM, Ketua Presidium MNPK, Majelis Nasional Pendidikan Katolik, tentang tulisan saya “Ojo kagetan, Ojo Gumunan” di Era AI alias Akal Imitasi.
Sepakat banget Pak Steven. Ungkapan “Ojo kagetan, ojo gumunan” mengajarkan kita untuk tidak mudah terkejut dan terheran-heran menghadapi hal-hal baru atau kejadian yang tidak terduga dalam hidup. Hal ini mengandung pesan agar kita tetap tenang dan tidak mudah panik, bahkan dalam situasi yang penuh tantangan.
“Ojo kagetan ojo gumunan” ada kaitan erat dengan ‘mind-wellness,’ kesehatan pikiran yang sebelumnya saya tulis.
Nyatanya, sehat fisik dan ekonomi namun tidak sehat cara berpikirnya itu akan melahirkan kisruh yang tak berujung.
Saya kaget! ‘Jebulé’ Jokowi yang selama ini saya hormati dinyatakan terkorup, bukan hanya dalam skope Nasional tapi dunia, seperti dirilis web OCCRP itu. Heboh medsos Nasional.
Sekejap saya kaget, tapi tidak lama, saya ingat tulisan saya sendiri “ojo kagetan.“
“Ojo gampang kaget” dengan gebyar luar. “Don’t judge a book by it’s cover.” Jangan menilai buku dari sampul luar. Apalagi tentang seseorang. Utamanya, jika menyangkut harga diri, nama baik, ….. “Ojo kagetan” agar tidak mudah terseret ‘anut grubyuk’.
Paus menetapkan tahun ini sebagai Tahun Yubelium, tahun kemurahan hati. Dengan tidak mudah kaget, maka tidak mudah ‘anut grubyuk’ atau ikut-ikutan, terutama tentang pribadi orang lain, dan kita tetap dalam spirit Yubelium, murah hati, berbaik sangka terhadap sesama, ‘ora anut grubyuk’.
Orang yang gampang kaget itu akan mudah terseret ‘anut grubyuk‘. Mengapa? Seperti lagu Ayu Ting Ting “di mana di mana di mana”, orang itu hilang arah dan alamat yang dimiliki jebul palsu, sebab terjebak oleh ‘gebyar luar’.
Tetaplah dalam semangat Yubelium “murah hati dan berbaik sangka!”
Salam sehat.
…
Jlitheng

