Barangkali kita ingat slogan iklan, “Sudah lupa, tuh…!” Maaf, bukannya saya mau mengiklankan obat sakit kepala. Melainkan, setidaknya kita pernah terlupa dengan peristiwa atau kejadian dalam keseharian itu.
Melupakan atau mengingat-ingat suatu hal itu wajar. Kadang saling berlintasan, betabrakan di kosmis otak kita. Baik yang manis, muram, konyol, atau kenakalan.
Benarkan melupakan peristiwa muram, kekecewaan, atau patah hati itu suatu hal yang sulit?!
Siapa pun bisa menghapus tulisan. Kalau memori? Siapa bilang tidak bisa?! Mana mungkin! Memang memori itu seperti tulisan yang bisa ditip-ex. Ya, betul. Tapi tidak perlu melotot, sewot, atau nyap-nyapan seperti itu.
Barangkali kita pernah mengalami, “Bro, kau ingat kejadian di …? Yang mana? Kapan? Dia sama siapa?” Lho, lupa itu berarti memori yang terhapus tanpa disadari. Hilang. Ngebleng. Bisa juga, karena daya ingatan kita yang mulai melemah. Kita mulai pikun?
Untuk ngelupakan hal-hal yang menyakiti hati, kecewa, atau pengalaman pahit itu bukan perkerjaan sulit. Karena makin ingin dilupakan kita kian dijerat kenangan? Tapi jangan cemen dan sentimental begitu, ah!
Melupakan suatu itu tidak sulit. Yang penting niat kita harus kuat, bertekun dalam doa, dan kita memangkas hal-hal yang berkaitan dengan kenangan itu. Misalnya, kita mengembalikan barang-barang kenangan dari doi, membuang, atau membakarnya.
Bisa juga kita berdamai dengan diri sendiri, memaafkan mereka yang bersalah. Atau kita meminta maaf pada mereka, karena, baik disengaja maupun pernah berbuat salah dan khilaf. Lalu peristiwa itu dibawa dalam doa, mohon ampunan dan belas kasih Tuhan.
Alangkah bijak pula, jika kita mau menyadari dan menerima kenangan pahit itu sebagai bagian dari ketetapan Tuhan untuk diambil hikmahnya. Bahwa setelah menerima masa lalu itu, sebisa mungkin kita membereskan kepahitan atau kekecewaan itu, dan melupakannya.
“Kita tidak boleh membiarkan akar kepahitan itu berdiam di dalam hati kita” (Ibrani 12: 15).
Masa lalu itu bukan untuk dilupakan, melainkan untuk disyukuri. Karena hidup itu berhikmat!
…
Mas Redjo

