“Kita tidak pernah sendirian, karena cinta Bunda bersemi indah di hati ini.” -Mas Redjo
…
Ketika menanggapi kasih Tuhan Yesus, pertama-tama yang saya panjatkan adalah pujian dan syukur atas anugerah kerahiman-Nya.
“Karena bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Aku yang memilih dan menetapkanmu, supaya kamu berbuah” (Yoh 15: 16).
Karena dipilih, saya berusaha tidak mengewakan, apalagi membuat hati-Nya terluka.
Karena hidup ini harus direfleksikan agar bermakna. “Urip kuwi urup.”
Saya amat terinspirasi, termotivasi, dan ingin menghidupi teladan Maria Bunda Tuhan yang dirayakan setiap 1 Januari, dalam hidup keseharian.
Jika Ibu kandung itu sebagai Ibu Duniawi, maka Bunda Maria adalah Bunda Rohani dan Surgawi.
Kedekatan saya sedekat-dekatnya dengan Ibu Maria, ketika Suster Clara CB sebagai pembimbing rohani menanyakan peran Bunda Maria dalam hidup para anggota Legio Maria.
Saya menjawab dengan spontan, “Bunda Surgawi yang hidup di hati umat beriman.” Alasan saya, karena Bunda Maria menyimpan dan merenungkan peristiwa itu dengan penuh iman serta kasih untuk taat dan setia mewujudkan kehendak Tuhan. Sehingga doa itu jadi nyata.
Sebagai umat beriman, kita diajak sadar diri sesadar-sadarnya untuk meneladani Bunda Maria, sekaligus untuk mewujudkan ungkapan cinta kita kepada Tuhan Yesus dan Bunda-Nya.
Sejatinya dengan menghidupi doa Salam Maria dalam keseharian, kita disatukan dengan Bunda Maria, baik di dunia maupun di Surga.
…
Mas Redjo

