“Hidup tanpa prasangka jadilah cahaya.” -Mas Redjo
…
Saya ingin hidup bahagia, tanpa sekat dan tanpa prasangka. Karena saya mau menjalani hidup ini dengan sukacita dan ikhlas.
Begitu pula dengan kegiatan yang saya lakukan untuk mengelola blog pribadi. Saya ingin berbagi untuk meneruskan hal baik dan positif, meski sederhana, tapi bermakna.
Awalnya adalah mengisi dengan tulisan sendiri. Karena kebaikan dan kemurahan hati para sahabat, saya dibantu untuk menyemarakkan blog itu agar isinya makin bervariasi dan menarik.
Saya mengucap syukur dan terima kasih atas perhatian, waktu, tenaga, dan tulisan dari para sahabat yang baik itu, karena dikirimkan langsung ke WA saya.
Karena sevisi dan semisi dengan para sahabat itu, kami jadi klop dan kompak untuk bersinergi: “Berbagi dengan murah hati untuk melayani sesama. Karena kami adalah alat-Nya.”
Sebagai pengelola blog, prioritas utama dan pertama saya adalah mendulukan tulisan para sahabat itu untuk diupload. Karena saya cukup sibuk. Kebetulan mempunyai usaha dan aktif dalam kegiatan sosial Gereja, sekaligus sebagai kepala keluarga. Saya harus piawai mengelola waktu dengan baik, efektif, dan berdaya guna. Bagi saya pribadi waktu adalah sangat berharga, sehingga saya harus kreatif dan produktif.
Di tengah kesibukan berwirausaha, mengedit dan menulis, saya juga mencari bahan tulisan di sosmed untuk memilah dan memilih sesuai visi misi blog saya. Tentu saja, dengan meminta izin si empunya.
Ternyata dengan banyak membaca, merenung, dan menulis hal-hal baik dan positif itu tanpa saya sadari mempengaruhi dan mengubah pola pikir saya makin jernih dan tenang. Saya tidak cepat reaktif dan emosi, meskipun dalam sikon yang buruk. Karena saya mengedepankan sikap tanpa prasangka terhadap orang lain, dan memahaminya.
Ternyata dengan mengelola blog pribadi untuk memotivasi dan menginspirasi sesama itu, anugerah Tuhan mengalir bagai deru ombak samudra yang tiada henti.
Tidak sekadar usaha tetap lancar jaya di tengah krisis pembeli, tapi yang utama dan bernilai tinggi adalah saya dianugerahi kesehatan prima, pikiran jernih, dan hati yang damai.
Dalam hidup berumah-tangga juga serasa tidak ada riak masalah yang berarti, karena fondasi keluarga adalah iman pada Tuhan Yesus agar kami saling mengasihi dan bahagia.
Di senja usia ini saya akan menulis dan terus menulis serta berbagi hal-hal baik dan positif, karena hidup ini amat berarti untuk dimaknai.
“Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh 1: 5).
…
Mas Redjo

