Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Engkau telah menciptakan kami bagi Diri-Mu sendiri, ya Tuhan, dan hati kami tidak akan pernah tenang sampai kami beristirahat dalam Engkau.”
(Santo Agustinus)
…
Tulisan refleksi dan filosofis ini saya deskripsikan sebagai sebuah ekspresi dari pergulatan personal saya menjelang akhir tahun 2024.
Makna Spiritual dan Rohani dari Ziarah Hidup
Apa sejatinya makna spiritual dan rohani dari sebuah ziarah hidup manusia? Apa yang mendasari ziarah hidup kita? Bukankah ziarah hidup kita memiliki dasar-dasar spiritual dan rohani?
Secara Kristiani, makna sebuah ziarah hidup adalah bepergian ke suatu tujuan, entah itu tempat suci, tempat terbuka, baik di dekat rumah atau jauh, demi mengalami kehadiran Tuhan secara unik dan spesial.
Maka, dapat disimpulkan, bahwa tujuan sentral dari sebuah ziarah hidup adalah perjalanan atau pencarian makna secara moral dan spiritual.
Mazmur 122: 1 – 2
“Aku bersukacita bersama dengan mereka yang berkata kepadaku: “Mari kita pergi ke rumah Tuhan!” Kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem.”
Kita Peziarah di Bumi
Dikisahkan secara filosofis, bahwa manusia itu adalah makhluk yang terpental dari langit dan terlunta tertatih di atas bumi maya ini. Ia, bahkan tak mengetahui dan memahami mengapa dan apa arti dari keberadaannya yang terlunta ini.
Manusia yang Mau Sadar Diri
Dari dalam dasar sanubarinya, sungguh disadarinya pula, bahwa sesungguhnya, dirinya hanya sejumput debu tanah sebagai makhluk yang sangat terbatas.
Hal ini pun juga telah terekspresi dan diteguhkan lewat makna sebuah adagium, “Errare humanum est,” Manusia itu mahkluk yang lemah dan terbatas.
Bertolak dari konteks kesadaran akan keterbatasan diri ini, sudah sewajarnya, secara positif justru dapat jadi sebuah power atau kekuatan ekstra yang mampu mendongkrak dan membangkitkan manusia dari keterpurukannya secara rohani itu.
Tuhan sanggup Mengangkat Derajat dan Martabat Manusia
Sungguh tidak ada yang mustahil bagi Tuhan untuk mengubah dan mengangkat derajat serta martabat manusia, jika manusia itu mau bersikap sadar akan keterbatasan dirinya serta taat pada kehendak Tuhan.
Bukankah Tuhan pernah bersabda, bahwa “kamu bukan lagi hamba, melainkan sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan perintah-Ku?”
Akhir Ziarah Hidup
Semoga dalam akhir ziarah hidup ini, kita sanggup mengikatkan diri kepada Tuhan serta setia pada kehendak-Nya, maka kita akan sampai pada tujuan akhir hidup rohani kita.
Mari, sekali lagi bersama Santo Agustinus kita lantang berseru, “Tuhan, hati kami tidaklah tenteram sebelum kami sampai pada-Mu!”
…
Kediri, 31 Desember 2024

