Simply da Flores
…
Seperti Derasnya Hujan Mengguyur
…
1.
Peluh kami terus bercucuran
di tengah debu ladang harapan
Keringat kami deras mengalir
di gersang petak sawah penantian
Akankah hasil tanaman ini mendapat harga yang layak
Mungkinkah panenan sawah ini mampu membayar utang
Panas terik masih berkepanjangan
musim pun terus berubah-ubah
“Nasib petani memang terus terombang-ambing
Takdir kami apakah selalu harus dikatakan lara nestapa”
Kami terus menanti datangnya Sang Juru Selamat
2.
Ternyata nasib para buruh pabrik
juga fakta para pedagang asongan
serta masyarakat miskin sederhana
Memang tidak jauh berbeda kisahnya
Bersahabat dengan debu lara nestapa
Berteman dengan air mata derita duka balada
Zaman terus berubah gebyar gemerlap
rupanya hanya untuk para pemilik jabatan
nyatanya hanya bagi yang bermodal dan bersenjata
“Inikah suratan takdir semesta
Apakah demikian misteri kehidupan”
Kami menunggu hadirnya Sang Penyelamat kehidupan
3.
Mendung di langit dan rintik di padang
Hujan di perasaan nurani dan banjir di sanubari
Pikiran selalu bertanya dan menggugat
hadapi pernak-pernik harapan galau
Musim hujan yang dinanti datang
namun lara derita tak kunjung pergi
“Rupanya masalahnya bukan pada musim
Rupanya persoalan tidak pada jabatan
Rupanya problema tidak pada harta dan senjata
Tetapi…
cara berpikir melihat fakta kehidupan
dalam diri setiap anak manusia”
Apakah kami terlahir untuk menderita lara nestapa
Inikah keadilan semesta dan takdir Sang Pencipta?
4.
Seperti derasnya air hujan turun
setiap pribadi berbeda menghadapinya
Ada petani bersukacita menyambutnya
karena tanda musim hujan telah tiba
bisa mengusir kekeringan dan segera menanam benih
Ada pedagangan asongan dan buruh angkut
terpaksa mengais rezeki dalam guyuran hujan
Ada yang tinggal di pemukiman kumuh
merintih kebingungan hadapi banjir
entah ke mana akan mampu berteduh
Banyak yang resah gelisah atas nasibnya dan keluarga
sebagai buruh di perkebunan sunyi
sebagai pengais sampah di berbagai tempat
sebagai buruh kasar di proyek jalanan dan tambang
sebagai nelayan miskin di tengah samudra
“Nasib tak mampu mengatur alam
Takdir seperti belenggu abadi mencengkram”
Semoga segera datang Sang Pembawa Damai
5.
Seperti derasnya hujan mengguyur
Kata-kata janji menghujam sanubari yang galau
Ucapan sumpah dan ayat suci
laksana tombak menikam jantung
dan darah duka lara tak pernah habis
Penantian akan perubahan nasib sepertinya harapan palsu
Menunggu datangnya Ratu Adil bagaikan dongeng
“Kemanusiaan yang adil dan beradab
terus mengiang di telinga
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
terus terlihat menusuk bola mata
Kata suci di tempat ibadah seperti tak bertenaga magis”
Keselarasan antara tulisan dan fakta terus dinanti
dengan doa pasrah, putus asa dan tanya
Dunia ini memang panggung sandiwara
Entah sampai kapan…
Entah berharap kepada siapa?
…

