Menjual kisah sedih adalah tindakan yang tanpa sadar sering kita lakukan. Diri ini terlihat sangat menderita dan perlu mendapat perhatian dari orang lain.
Menjual kisah sedih untuk mendapat simpati bisa jadi satu bentuk manipulasi. Orang yang manipulatif sering menggunakan kisah-kisah sedih untuk membangkitkan rasa kasihan, membuat orang lain merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan mereka. Sebaiknya hati-hati, tidak semua kesedihan yang diceritakan dengan dramatis itu tulus. Manipulasi lewat cerita sedih sering kali hanya untuk menutupi niat sebenarnya, mendapatkan keuntungan.
Yesus, sepanjang hidup-Nya memberi teladan ‘tidak pernah menjual derita-Nya untuk menarik simpati publik’. Ketika dalam jalan derita-Nya, Ia ditampar oleh seorang prajurit, Ia hanya mengatakan: “Kalau Aku salah, katakanlah salah-Ku, tapi, kalau benar yang Kukatakan, mengapa engkau menampar Aku?”
Bahkan ketika di Getsemani dalam suasana duka yang amat dalam Dia bertanya:
“Tidak bisakah bersama-Ku satu jam saja?”
Tidak ada nada minta dikasihani, sebaliknya ajakan kepada para murid-Nya untuk tidak takut menanggung beban kehidupan ini.
Masih tentang Natal. ‘Move on’ – lanjutkan hidup dengan penuh tanggung jawab. Kita balikkan ‘rasa kasihan diri’ jadi ‘rasa syukur’, bahwa masih diberi waktu untuk masuk arena hidup baru ditahun 2025. ‘Bye-bye’ kisah sedih dan ‘welcome’ cinta hidup baru.
Salam sehat.
…
Jlitheng

