Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
"Acta, non Verba"
(Perbuatan, bukan Ucapan)
Fenomena tak Pantas
Sebuah fenomena paling ekstrem di zaman modern ini dan sungguh menggetarkan dada sadar kita sebagai manusia ialah terasa, “Betapa sulitnya orang dewasa untuk mendidik anak-anak dan remaja.”
Ada pun fenomena yang menyesakkan dada batin ini, bahkan kini sudah melanda anak-anak dan remaja kita di mana pun. Hal ini pun justru kian mencuat, tatkala terdengar aneka keluhan yang menyayat hati, seperti, “Kamu, anak yang sungguh kurang ajar, siapa Gurunu?” Atau “Remaja tidak tahu diri, seenak jidat kamu bertutur.” Atau juga, “Terkutuklah kamu, menyesal saya memiliki anak seperti kamu.”
Fenomena ini, bahkan mau mendeskripsikan, bahwa sesungguhnya, ‘nasi telah jadi bubur’. Fenomena yang menyakitkan hati!
Suri Teladan Handal
Suatu hari, kepada sang teolog, musikus, filsuf, dan dokter Albert Schweitzer diminta untuk memberikan wejangan, “Bagaimana cara terbaik untuk mendidik anak dan remaja?” Maka, apa jawaban spektakuler yang justru mengalir deras dari bibirnya?
Acta, non Verba
Inilah jawaban yang paling telak dan cerdas dari bibir misionaris sejati ini, “Baiklah, pertama, dengan teladan yang terpuji. Kedua, dengan teladan yang terpuji. Ketiga, dengan teladan yang terpuji.”
(Dari Berbagai Sumber)
Keluarga Ideal
Bukankah Bijaksanawan sejati telah bertutur, bahwa “Warisan terbesar yang bisa kita berikan kepada anak-anak bukanlah deposito di bank, rumah yang mewah, atau hal-hal yang lain. Melainkan bila suami istri itu hidup rukun dan saling mengasihi di dalam keluarga.”
Sejatinya, di balik himbauan sang arifin itu, justru termaktub sebuah makna, bahwa hal yang terpenting dan utama dalam proses mendidik anak-anak dan remaja adalah suri teladan handal dari orangtua.
Kembali ke Dapur Keluarga
Peribahasa Latin, “Bona culina, bona disciplina.” Kedisiplinan berasal dari dalam keluarga. Ada pun makna meluasnya ialah, “di mana ada dapur, terutama di saat asap mengepul, di situ pun aroma kehidupan sangat terasa.”
Amanat Akhir
Setelah mencermati saksama, makna sentral dari tulisan ini, maka sepintas kilas dapat disimpulkan, bahwa suatu proses pendidikan anak dan remaja hanya akan berhasil, jika orangtua selaku sokoguru utama, sanggup jadi pijakan dasar bagi anak dan remaja lewat keteladanan handal dari para orangtua.
Sungguh, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.”
Kediri, 28 Desember 2024

