Simply da Flores
Adventus dan Natal: Dinamika Fakta dan Harapan
1.
Menanti itu tidak mudah dilakukan
entah menanti apa dan siapa
Karena bisa datang, tertunda atau tidak terjadi
Menunggu juga sama rasanya
Sering janji yang dipegang
bisa berubah atau batal
Maka ada ungkapan klasik
“menanti kejujuran dan harapkan kepastian
Ini tentang hal material dan yang bisa diinderai
Apalagiโฆ
kalau berkaitan dengan hal non material
seperti nilai dan kebenaran
Lebih sulit lagi menanti hal rohani
“hanya iman di dada, yang bisa membuat jiwa raga mampu”
2.
Ada yang menanti sekian lama
agar janji terpenuhi
utang akan dibayarkan oleh peminjam
Dasarnya adalah saling percaya
karena pribadi saling kenal dekat
bahkan ada hubungan bersaudara
Ada utang dalam relasi antara badan usaha
misalnya utang di koperasi dan perbankan
Ada juga menanti pembayaran utang antar organisasi
Waktu terus berlalu untuk menanti
Utang tak dibayar dengan seribu alasan
Janji tidak ditepati dengan aneka kondisi
Banyak rentetan sikap dan peristiwa bisa terjadi
Sangat berbeda dengan saat meminta dan membuat janji
3.
Di berbagai lembaga penegak hukum
Para pencari keadilan mengalami nasib berbeda-beda
Ada yang gampang mendapat haknya
entah karena relasi atau alasan lainnya
Namun,
ada jutaan yang merana terkatung-katung
memperjuangkan hak dan nasibnya
menantikan keadilan dan kebenaran
Dan belum juga mendapatkannya
“Keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”
Ada yang mempunyai tanah warisan
namun kalah dengan pemilik sertifikat yang punya uang dan relasi
Ada yang disiksa, diteror bahkan tergusur dari tempat tinggalnya
Ada yang diusir dari kampung halaman dan tumpah darahnya
demi pertambangan, perkebunan atau pembangunan
“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”
4.
Ada balada suka lara berkepanjangan
mereka yang mengalami penindasan
merasa diperlakukan tidak adil
Tanah dan sumber daya alam dicaplok
Saudara dan sahabat mati bersimbah darah
Berbagai perjuangan sepertinya hampa
Bahkan
sering dicap sebagai pengganggu keamanan dan kelompok bersenjata anti negara
“Meratap dan menanti kebenaran dan keadilan
seperti si cebol merindukan purnama
Berjuang menuntut hak kehidupan
justru mati bersimbah darah”
Deretan kasus dalam relasi masyarakat dan negara
ada penantian tentang kebenaran dan jaminan keadilan
Dalam adat budaya dan relasi sosial
ada rindu damba menanti kebijaksanaan dan keadilan
Dalam dunia usaha zaman now
ada variasi penegakkan hukum
dan indikasi kecurangan serta ketidakadilan
Bahkan
dalam organisasi agama pun terjadi
penantian panjang kejujuran, kebenaran dan keadilan
Karenaโฆ
atas nama agama dan Allah pun
bisa dilakukan kejahatan, penipuan dan kekerasan serta ketidakadilan
5.
Sejarah mencatat begitu mahalnya kejujuran, kebenaran dan keadilan
Kejujuran antar pribadi dan organisasi
Kebenaran nilai dan moralitas dari para pejabat dan mereka yang bijak pandai
Keadilan dari mereka yang memegang hukum
Entah dalam organisasi, adat dan budaya
Entah dalam lembaga resmi negara
Entah dalam kehidupan beragama
Penantian menjadi makin melelahkan
Menunggu sering menjadi beban dan penderitaan
Kata-kata janji dan sumpah
bahkan sering hanya seremonial dan justru dilanggar dengan penuh kebanggaan
Banyak yang menggugat doanya
“Apakah Sang Maha Kuasa tidak mendengar tatap tangis kami
Apakah derita suka lara dan darah yang mengalir tidak terlihat mata Sang Maha Melihat
Di manakah Sang Juru Selamat dan Ratu Adil yang Maha Bijaksana
Apakah kami orang kecil terlahir untuk menjadi korban ketidakadilan”

