Kunjungan Maria kepada Elizabeth, Buliknya itu sangat mempengaruhi refleksiku tentang Natal hari ini.
Bukan hanya jauhnya, lelah dan berbahaya, 140 – 180 km, kunjungan itu, kalau ‘tidak diperlokke’, sungguh direncana, dan dirasakan penting, tidak akan terjadi.
Maria, seperti yang saya rasa dan yakini, “sangat rindu dan ingin menyapa” Buliknya yang sudah sepuh itu. Rasa rindu mengatasi segala lelah dan resiko selama perjalanan.
Menyapa merupakan salah satu kebajikan rohani dalam hidup ini. Menyapa dapat membuat hati merasa ‘nyess’, berharga dan masih ada.
Seperti Maria, rasa rindu bertemu anak cucu mendorong sepasang Opa Oma menempuh jarak jauh perjalanan, mengatasi lelah dan cuaca yang tidak bersahabat. Kondisi fisik mereka memang menurun. Merayakan Natal bersama anak cucu belum terlaksana, namun pesan Natal yang ingin disampaikan tak pernah gagal, cinta Opa Oma untuk anak cucu itu tidak pernah pudar.
Banyak sahabat: jauh, dekat, lama tidak jumpa dan bersapa, kini hadir dan ternyata persaudaraan sejati itu tidak pernah pudar. Natal selalu hadir sebagai penyegar.
Pagi ini kami, Opi, Opa, dan Oma, berkesempatan untuk merayakan Natal bersama. Indah sekali!
Salam sehat dan salam damai Natal.
…
Jlitheng

