Red-Joss.com – Kita tentu mempunyai tokoh idola, apakah dia itu seorang selebritis, filsuf, politikus, budayawan, dan seterusnya. Lalu, apa alasan kita, sehingga mengidolakan tokoh itu?
Kriteria tiap orang tentu tidak sama satu dengan yang lain. Ada orang yang mengagumi perjuangan hidup, sukses berwira usaha, dermawan, bijaksana, atau yang mempunyai jutaan pengikut.
Apa pun kriteria dan alasannya, hal itu tidak perlu diperdebatkan. Semua itu syah dan layak dihargai.
Alangkah bijak, jika kita tidak sekadar mengidolakan tokoh itu dan mengadobsi ‘plek’, secara total cara berpikir dan perilakunya. Tapi kita berani membuang sisi jelek atau hal negatif dari tokoh idola itu. Sedang sisi positif dan hal yang baik dari orang itu untuk diteladani dan kita teruskan dalam keseharian hidup ini.
Misalnya, kita mempunyai idola seorang konten kreator yang sukses, tapi hobi membuat sensasi picisan dan menghujat orang. Atau seorang wira usaha yang sukses, tapi senang kawin cerai. Dan seterusnya.
Hal yang jelek dan negatif itu tidak patut ditiru, tapi harus kita buang. Sebaliknya kreativitas, semangat juang, trik sukses melobi berbinis, atau hal yang baik dan positif itu yang wajib dipertahankan dan diteladani.
Sesungguhnya, mengidolakan tokoh itu tidak harus orang-orang hebat, sukses, atau terkenal. Bisa juga orang yang berada di sekitar kita. Ia bisa seorang pendidik, penggerak lingkungan hidup, pegiat literasi, dan sebagainya.
Bagi saya sendiri, tokoh idola itu adalah orangtua. Kendati orangtua saya tidak orang hebat, bahkan tidak sekolah, tapi mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya.
Mereka bekerja ekstra keras demi kemajuan anaknya. Bahkan kepala dijadikan kaki, istilahnya. Mereka mampu mengentaskan kakak-kakak saya hingga ke perguruan tinggi.
Dari Ibu, saya belajar untuk jadi pejuang yang tangguh, komitmen, tekun, sabar, dan ulet agar apa pun yang kita impikan itu bakal terwujud.
Dari Ibu pula saya belajar untuk jadi pribadi yang senang mengalah dan ikhlas. Artinya, dengan mengasihi siapa pun, kita tidak mudah reaktif dan tersulut emosi. Dengan memberi maaf, ampunan, dan mendoakan orang itu, hati ini tidak bakal terluka atau sakit hati.
Sedang dari Bapak, saya belajar ‘gelem obah iso mamah’ dan ‘ubet’. Artinya, demi bertanggung jawab pada keluarga itu kita harus berani melepas gengsi. Yang penting kerja halal agar anak-anak tidak malu, meski orangtua pekerja kasar.
Jadi, mohon maaf, jika saya ditanya tokoh idola, saya pasti menjawab kedua orangtuaku. Mereka memberi teladan lewat pikiran, kata-kata, dan perilaku.
…
Mas Redjo

