“Ketika dicengkeram dan dikuasai oleh kesombongan, sejatinya kita telah gagal menghidupi budaya ‘tanggap ing sasmita’ dalam keluarga.” -Mas Redjo
Membangun budaya peka dan peduli, karena saling mengasihi di dalam keluarga itu adalah fondasi utama hidup bahagia.
Kuncinya adalah teladan kebaikan dalam keluarga itu harus dihidupi dengan hati dan sepanjang hidup kita.
Tanpa sekat, tiada kenal lelah, dan tiada bosan, karena semua itu harus dijalani dengan tulus hati.
Saya ingat benar, ketika kecil, di saat makan bersama keluarga. Sendok tidak boleh beradu dengan piring atau menjaga mulut agar tidak berkecap, karena hal itu tidak sopan. Anak yang ditatap Bapak atau Ibu hendaknya segera sadar diri, berhenti, dan diperbaiki agar perbuatannya itu tidak diulangi lagi.
Begitu pula piring makan itu harus bersih. Tidak boleh ada sebutir nasi yang tersisa, karena rezeki itu harus disyukuri. Apalagi jika makanan di piring itu dibiarkan tersisa, dibuang, dan itu mubazir.
Padahal, “Membuang makanan itu sama dengan mencuri dari orang miskin,” kecam Paus Fransiskus.
Semangat ‘tanggap ing sasmita’ itu harus dihidupi supaya bertumbuh subur dalam keluarga, sehingga hubungan antar anggota keluarga itu saling peduli dan mengasihi.
Anak diajar dan dilatih melakukan tugas dan kewajibannya dengan sadar dan bertanggung jawab. Misal, sebagai pelajar itu tugasnya belajar. Tugas pekerjaan di rumah dikerjakan beramai-ramai untuk meringankan pekerjaan Ibu, seperti menyapu, mencuci baju, piring, dan sebagainya. Sekaligus agar anak belajar bekerja, bertanggung jawab, dan mandiri.
“Untuk saling peduli membantu dan menolong, jika seorang anggota keluarga sedang sakit, susah, atau berhalangan.”
Tidak harus dimintai tolong lebih dulu, kita baru bertindak. Tapi kita dituntut peka melihat keadaan, peduli, dan cepat tanggap untuk bertindak tanpa harus diperintah atau dikomando.
Tidak hanya itu, semangat peduli dan berbagi itu juga ditumbuhkan oleh orangtua lewat aksi nyata. Meski sibuk bekerja, tapi Bapak Ibu memberi contoh aktif dalam bidang pelayanan dan kegiatan sosial.
“Aktif dalam kegiatan di luaran itu tidak masalah, asal kita dapat mengelola dan membagi waktu itu dengan baik, dan tidak melupakan keluarga. Tugas nomor satu itu tetap keluarga,” kata Bapak tegas.
“Jika kita sedang ngobrol itu jangan main hp sendiri. Tolong hpnya ditaruh.”
“Jika sedang nyopir, tolong jangan main hp.”
“Ini di Gereja, jangan main hp. Mengganggu umat yang lain. Tolong hpnya dimatiin.”
Menurut Ibu Bapak, jika kita ingin menggingatkan anggota keluarga atau teman itu secara baik, sopan, dan elegan agar yang diingatkan itu tidak tersinggung atau marah.
“Maaf, tolong, dan terima kasih,” adalah kata-kata sakti untuk membangun komunikasi yang baik. Bahkan, meskipun tidak bersalah, kita tidak perlu gengsi meminta maaf. Sebaliknya dengan mengalah dan merendah itu membuat kita jadi bijaksana.
“Selalu mengingatkan dengan hati, karena kita mengasihi. Hindari konflik atau perselisihan dengan mengalah, sabar, dan tabah. Dengan doa ikhlas, semua diubah jadi indah oleh Tuhan,” tambah Ibu.
Sejatinya, dengan menghidupi semangat peka dan peduli, kita diajak “tanggap ing sasmita.” Kita belajar dan mengejawantahkan teladan hidup Tuhan Yesus.
“Hati-Nya tergerak, karena belas kasihan” (Markus 1: 41).
Mas Redjo

