Mondadori, penerbit Italia, akan meluncurkan buku “Harapan”, autobiografi Paus Fransiskus, pada tanggal 14 Januari 2025 di lebih dari 100 negara. Konsentrasi kemanusiaan yang di daerah kumuh Buenos Aires, Argentina, dan ‘panah menuju hati’ yang di Irak pada tahun 2021 yang dialaminya, merupakan tema utama buku yang ditulis Bapa Suci bersama Carlo Musso ini.
17 Desember 2024, di ulang tahun ke-88 Paus Fransiskus, dua surat kabar Italia, “La Repubblica” dan “Il Corriere della Sera”, menerbitkan beberapa kutipan.
Masa Kecil di Kawasan Flores
“Ketika seseorang mengatakan, bahwa saya adalah seorang Paus desa, saya berdoa agar saya layak menerimanya,” kata Paus Fransiskus, saat ia mengenang mikrokosmos yang komplek, multietnis, multiagama, dan multikultural di kawasan Flores, Buenos Aires, Argentina, tempat ia menghabiskan masa kecilnya.
“Perbedaan adalah hal yang wajar, dan kami saling menghormati,” katanya, sambil menunjuk hubungannya dengan teman-teman Katolik, Yahudi, dan Muslim.
Magdalena-Magdalena Masa Kini
Paus Fransiskus menceritakan pengalaman masa kecilnya saat melihat pelacuran di jalanan Buenos Aires, dan menyebutnya sebagai gambaran “sisi kehidupan yang paling gelap dan paling sulit.”
Sebagai seorang Uskup, ia merayakan Misa untuk beberapa wanita yang telah mengubah hidup mereka.
Ia mengenang seorang wanita bernama Porota yang mengatakan kepadanya, “Aku pernah bekerja sebagai pelacur di mana-mana, bahkan di Amerika Serikat. Aku mendapatkan uang, lalu jatuh cinta pada seorang pria tua yang jadi kekasihku. Ketika ia meninggal, aku mengubah hidupku. Sekarang aku telah pensiun, dan aku pergi memandikan orangtua-orangtua di panti jompo yang tidak diperhatikan satu orang pun. Aku tidak sering mengikuti Misa, dan aku melakukan segalanya dengan tubuhku, tapi sekarang aku ingin merawat tubuh-tubuh yang tidak diminati orang lain.”
Paus Fransiskus menyebutnya sebagai “Magdalena masa kini.” Terakhir kali Porota meneleponnya, dari rumah sakit, tepat sebelum ia meninggal, untuk meminta Sakramen Pengurapan Orang Sakit dan Komuni.
“Ia meninggal dengan baik, seperti ‘para pemungut cukai dan pelacur’ yang’ mendahului kita dalam Kerajaan Allah’ (Mat 21: 31). Saya sangat mencintainya. Bahkan sekarang, saya tidak pernah lupa untuk mendoakannya pada hari kematiannya,” tulisnya.
Persahabatan Dengan Pastor Pepe
Paus Fransiskus mengenang para tahanan yang membuat sikat pakaian, dan menceritakan persahabatannya dengan Pastor José de Paola, yang dikenal sebagai Pastor Pepe, Imam di Virgen de Caacupé, Villa 21. Paus Fransiskus, saat itu masih bernama Jorge Mario Bergoglio, mendukung Pastor Pepe melalui krisis panggilan.
Berbicara tentang wilayah yang tidak penting di mana “negara tidak ada selama empat puluh tahun” dan kecanduan narkoba adalah “ancaman yang melipatgandakan keputusasaan,” Paus Fransiskus menegaskan bahwa “di pinggiran ini, yang seharusnya makin dijadikan pusat oleh Gereja, sekelompok awam dan Imam seperti Pastor Pepe hidup dan jadi saksi-saksi Injil setiap hari, di antara mereka yang tercampakkan oleh ekonomi yang mematikan.”
Agama Bukan Candu Masyarakat; Iman adalah Sebuah Perjumpaan
Dari kenyataan pahit ini muncul kebenaran, bahwa agama, seperti yang diklaim sebagian orang, “bukan candu masyarakat, sebuah kisah yang menenangkan untuk mengasingkan individu,” tegas Paus Fransiskus.
Sebaliknya, ia berkata, “Berkat iman dan komitmen pastoral dan sipil itulah” desa-desa “telah berkembang secara tak terbayangkan, meskipun menghadapi kesulitan yang sangat besar.” Sama seperti iman, “setiap pelayanan adalah sebuah perjumpaan, dan kita khususnya dapat belajar banyak dari orang miskin.”
Perjalanan ke Irak dan ‘Anak Panah Menuju Hati’ Mosul
Dari drama pinggiran kota hingga kehancuran Irak, pandangan Paus Fransiskus tetap tertuju pada kemanusiaan yang terluka.
Merenungkan perjalanan apostoliknya yang bersejarah ke Irak, pada tanggal 5–8 Maret 2021, Paus Fransiskus menggambarkan anak panah menuju hati yang diwakili oleh Mosul.
“Salah satu kota tertua di dunia,” katanya, “yang dipenuhi dengan sejarah dan tradisi yang telah menyaksikan berbagai peradaban datang dan pergi serta merupakan lambang hidup berdampingan secara damai berbagai budaya di satu negara — Arab, Kurdi, Armenia, Turki, Kristiani, Suriah — tampak di mata saya sebagai medan puing setelah tiga tahun pendudukan ISIS, yang telah memilihnya sebagai bentengnya.”
Dilihat dari helikopter, ia mengatakan wilayah itu tampak seperti ‘sinar-X kebencian, salah satu sentimen paling efektif di zaman kita.’
Buah Perang yang Beracun
Paus Fransiskus mengingat konteks kunjungan yang sulit tersebut, yang diperburuk oleh pandemi COVID-19 dan masalah keamanan.
“Saya dinasihati untuk tidak pergi ke sana oleh hampir semua orang. Tapi saya harus melakukannya,” tulisnya, mengacu pada tanah Abraham, “nenek moyang bersama orang Yahudi, Kristiani, dan Muslim.”
Ia menyebutkan peringatan dari intelijen Inggris tentang dua upaya pembunuhan yang telah direncanakan selama kunjungannya ke Mosul: satu oleh seorang wanita yang diikat dengan bahan peledak, satunya lagi melibatkan truk.
Kedua penyerang tersebut dicegat dan dibunuh oleh polisi Irak. “Ini sangat menyentuh saya,” tegas Paus Fransiskus. “Juga merupakan buah perang yang beracun.”
Seruan Untuk Mengutamakan Akal Sehat Ketimbang Pertikaian
Namun di tengah semua kebencian ini, Paus Fransiskus menemukan secercah harapan dalam pertemuannya pada tanggal 6 Maret dengan Ayatollah Agung Ali al-Sistani di Najaf, sebuah perjumpaan yang telah dipersiapkan oleh Takhta Suci selama beberapa dekade.
Pertemuan yang diselenggarakan dengan semangat persaudaraan di kediaman al-Sistani tersebut adalah “sebuah isyarat yang mengesankan di Timur, bahkan lebih dari sekadar deklarasi atau dokumen, karena menandakan persahabatan dan menjadi bagian dari satu keluarga,” jelas Paus Fransiskus. “Menyejukkan jiwa saya dan membuat saya merasa terhormat.”
Paus Fransiskus mengenang seruan bersama Ayatollah kepada negara-negara besar untuk meninggalkan bahasa perang, mengutamakan akal sehat dan kebijaksanaan. Ia menyampaikan penghargaannya atas sebuah frasa dari pertemuan mereka: “Manusia adalah saudara dalam agama atau sederajat dalam ciptaan.”
Selain “Harapan”, kehidupan Paus Fransiskus juga akan diceritakan dalam sebuah film yang mengacu pada “Kehidupan: Kisahku dalam Sejarah”, sebuah autobiografi yang ditulisnya bersama Fabio Marchese Ragona serta diterbitkan pada bulan Maret oleh HarperCollins.
Bapak Peter Suriadi

