Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
Humor Konyol Gus Dur
- “Gitu saja kok repot.”
- “DPR kok seperti anak TK,”
- “Hanya ada tiga polisi di Indonesia, yaitu polisi tidur, patung polisi, dan Jenderal Hoegeng.”
Tulisan ini saya turunkan, karena terinspirasi oleh tulisan Alisa Wahid pada kolom ‘Udar Rasa’ Gaya Hidup harian Kompas, Minggu (15/12/2024) berjudul “Kelakar Gus Dur.”
Jangan sepelekan kelakar. Ini pelajaran berharga bagi warga bangsa, merujuk pada kehebohan Miftah Habbiburahman yang terpaksa harus mundur dari posisi sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Umat Beragama dan Sarana Prasarana Keagamaan Desember 2024 ini, demikian paragraf awal tulisan Alisa Wahid.
Humor: Didaktika yang Menginspirasi
Ternyata Gus Dur berhumor untuk menyampaikan pesan-pesan serius sebagai alat untuk menjaga kewarasan pribadi dan kewarasan kolektif.
Di dalam berhumor tentu ada unsur sindiran halus sebagai kritik atas kesalahan dalam kehidupan bermasyarakat.
Bahkan humor itu bukan sekadar lontaran kelucuan yang membawa kesempatan untuk tertawa terbahak-bahak, namun juga sebuah strategi kebudayaan, dan bahkan strategi politik.
Humor itu dapat jadi alat untuk membusukkan kekuasaan, karena efektif jadi alat perlawanan, demikian Alisa Wahid.
Guyonan ‘Orba’ Gus Dur
- Dikisahkan, bahwa pada masa Orba, orang-orang Indonesia cenderung untuk memeriksakan giginya ke Singapura. Seorang dokter gigi di sana heran dan bertanya kepada pasiennya, mengapa? Sang pasien menjawab, bahwa di Indonesia banyak orang takut membuka mulut.
- Protes Para Pemuka Agama
Para Pemuka agama yang memprotes malaikat penjaga pintu Surga, karena mendahulukan sopir metromini Jakarta.
Malaikat itu menjawab, bahwa saat Pemuka agama berkhotbah, banyak jamaah tertidur. Sebaliknya, sopir metromini itu setiap harinya membuat ratusan orang mengingat dan mendekatkan diri kepada Tuhan, karena ia selalu ngebut saat mengendarai bus kota.
Lewat guyonan ini, Gus Dur justru sedang mengingatkan para pemuka agama atas tugas utamanya untuk mendekatkan umat kepada Tuhan, bukan sekadar untuk membawa nama Tuhan saja.
Humor Otokritik versus Humor Slapstik
Hendaknya di dalam berhumor sebagai sebuah sarana edukatif yang mampu menginspirasi dan rekreatif, kita mampu juga untuk menghindari model humor splastik yang lewat banyolannya terkesan merendahkan martabat manusia.
Sebuah Memori
Pada paragraf akhir tulisannya, Mbak Alisa Wahid yang juga adalah putri Gus Dur menulis, “Ah, setelah 15 tahun meninggalkan dunia ini, kita ternyata masih terus belajar dari Gus Dur. Kelakar-kelakarnya ternyata jadi warisan berharga untuk kita memelihara kewarasan bangsa. Semoga kita bisa menjaganya.”
…
Kediri, 16 Desember 2024

