Simply da Flores
…
Sejuta Wajah Adventus
1.
Ribuan bahkan jutaan kata doa
ditulis di tembok ratapan itu
sementara raga dipeluk bara api peperangan
Mereka menantikan lahirnya Juru Selamat
Sang Raja Keadilan Ilahi
Jutaan manusia berbondong datang berziarah
meyakini ini tanah suci Sang Penebus
Ia telah lahir dan hidup
Ia telah berkarya wartakan Kerajaan Allah
Ia telah sengsara dan wafat disalibkan
Ia telah bangkit dan naik ke Surga
Ia anak keturunan Daud di tanah ini
2.
Jika ingin damai, maka siapkan perang
Damai dirindukan setiap insan
Perang masih berkecamuk di dunia
Bahkan
sesama ditembak dan dibunuh
atas nama Allah dan demi Kebenaran Ilahi
Kemiskinan masih mencengkram jutaan jiwa
Lapar haus merana dan mati
Sumber daya alam dirampas
janji damai sirna di ujung senjata
Keadilan dan kemanusiaan dibasuh darah dan air mata
Di dalam ruang doa yang disakralkan
para pemeluk teguh naikkan lagu pujian
Gemerlap hiasan penuh warna-warni
Penantian dirayakan, kelahiran diagungkan
kepada seorang bayi mungil dari dusun terpencil
oleh ratusan juta dan milyaran orang
3.
Pilpres dan pilkada telah usai
penuh dinamika di seluruh negeri
Tebaran janji dan program terjadi
lahirkan harapan dan penantian
Akan ada kesejahteraan dan hidup yang lebih baik
Politik selalu berwajah seribu
yang abadi hanya kepentingan
“Menanti Ratu Adil datang”
Antar kelompok masih terjadi sengketa dan perang
Antar suku bangsa juga berselisih dan saling membunuh
Antar negara pun ada permusuhan dan perang
Entah perang untuk apa dan siapa
Pabrik senjata terus beranak-pinak
Kata-kata selalu tersenyum
dan angka tertawa terbahak-bahak
4.
Ada yang menantikan cahaya harapan
melerai gumpalan salju di atas pohon dan atap rumah
Datanglah Sang Penyelamat
Raja Ilahi penuh kuasa
Ada yang meratap dan berderai air mata di tengah hutan belantara
Lara tak berdaya di dusun sunyi
Galau penuh haru di depan jenazah orang-orang terkasih
Nyawa melayang hilang direnggut senjata
Mereka menunggu keadilan dan kasih sayang
Penantian itu mungkin angin
Menunggu itu mungkin awan dan kabut
Kebenaran dan keadilan mungkin dongeng
Kemanusiaan yang beradab itu mungkin hanya milik orang berkuasa dan bersenjata
Ataukah ini semua cuma sandiwara semesta

