Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Verba Volant, Scripta Manent.“
(Kata-kata lisan akan
terbang, tapi apa yang
tertulis akan menetap).
(Kaisar Titus)
Simbol Ujung Pena
Pena / ujung pena, atau setangkai mata pena, ternyata menyimbolkan kaum intelektual yang sungguh dihormati secara mundial.
Kaisar Titus dalam pidatonya di hadapan Senat Romawi, ternyata sanggup meninggalkan pesan, berupa sebuah adagium agung, “verba volant, scripta manent,” yang teramat mendalam bagi peradaban dunia.
Lima Filosofi Ujung Pena
- Setitik Pena dalam sehelai kertas kosong layaknya sebuah kisah dalam dalam alur kehidupan.
Dalam konteks ini, Anda laksana sehelai kertas kosong yang akan siap dicoret-coret oleh jemari pemiliknya. Dia dengan sesuka kehendaknya, akan mengisahkan tentang Anda setiap saat dalam hidupmu ini.
- Coretan Pena tak dapat dihapuskan.
Demikian pula kisah kehidupan anak manusia yang telah tercoret-coret oleh jemari kehendak tulus sang pemilik itu ternyata tak dapat diurungkan. Ia akan berada dan menetap sesuai coretan aslinya.
- Coretan yang dihasilkan ujung pena sesuai gerakan tangan sang pemilik.
Riil pula, bahwa setangkai pena tak sanggup menggerakkan dirinya sendiri. Tentu di balik itu, ada sosok pribadi yang menggerakkannya sesuai tujuannya. Apa yang disasarkannya untuk hari depan Anda, itulah yang dituliskannya.
- Ujung pena ternyata bisa memberikan coretannya di mana dan pada apa saja.
Sudah sangat lazim, bahwa ujung pena biasa dicoretkan di atas sehelai daun kertas. Tapi, dapat saja ujung pena itu dicoretkan di dinding tembok kota, sebatang tiang listrik, atau di secarik kain.
Hal ini berdampak, bahwa coretan itu akan meninggalkan bekas. Kelak, mata dan hati orang-orang akan melihat dan memahami, apa pesan dan maknanya, bukan?
- Meskipun tintanya telah habis, tapi ujung pena tetap akan meninggalkan hasil coretannya.
Sekalipun pena itu sudah tak dapat digunakan lagi, jika tintanya telah habis, namun bekas-bekas coretannya akan tetap tertinggal di sana.
Bahkan di saat penulisnya telah tiada, tapi yakinlah coretan itu akan tetap tertinggal di sana dan dapat menjadi sebuah monumen kenangan akan sebuah kehidupan.
(Dari berbagai Sumber)
Kita pun Secarik Coretan
Semoga kita dapat memahami dan menyadari, bahwa sejatinya, Anda dan saya adalah secarik coretan yang tertinggal di sebuah dinding getir dan riuhnya kehidupan ini.
Kita juga tidak sanggup mengelak atau berkelit atas realitas keberadaan dari secarik coretan ujung pena kehidupan ini, bukan?
Karena ujung jemari tulus Penggerak kehidupan kita, ternyata telah mencoretnya sesuai niat dan tujuan di luar kehendak bebas kita.
Nasib, Oh Sang Nasib!
“Apa yang sudah tertulis,
akan tetaplah tertulis”
(Quod Scripsi, Scripsi)
…
Kediri, 15 Desember 2024

