Tugas Gereja yang merangkul itu dihadirkan oleh para gembala umat, termasuk para Prodiakon, DPH, Ketua Seksi dan utamanya para Ketua Lingkungan, yang paling dekat dengan umat, paling tahu persoalan dan paling tahu kebutuhan umat. Sehingga sikap setiap gembala itu harus mempermudah bukan mempersulit.
Praktek penggembalaan itu tidak boleh bertentangan dengan prinsip “Gembala Baik dan Murah Hati.”
Dalam pembekalan Kaling di salah satu Paroki di KAJ, Romo Yustinus, Direktur Pusat Pastoral Samadi Klender dan salah satu Hakim Gereja di KAJ, bercerita, bahwa Bapa Uskup Ign Kardinal Suharjo marah banget dan walaupun tetap halus, sampai ngendiko : ‘Arep tak plinteng’, ketika mendengar laporan, bahwa ada gembala yang melarang umat mengadakan Misa arwah di rumah. Sebagai orang Jawa memahami maksud Bapak Uskup itu.
Marah sebab pernyataan Gembala itu bertentangan dengan prinsip “Gembala Baik dan Murah Hati.” Menyesatkan.
Jangan mendiskriminasi, tugas Gereja itu merangkul, bukan menyingkirkan. Para Gembala umat, termasuk Ketua Lingkungan harus peka dengan masalah yang sedang dihadapi umat, sebab Ketua Lingkungan adalah gembala yang paling dekat dengan umat.
Paus Fransiskus yang merupakan seorang tokoh terpopuler dunia ini sering mengungkapkan, bahwa Gereja bukanlah pertama-tama institusi, melainkan suatu rumah sakit di medan perang dan Gereja harus hadir bagi orang yang sakit, orang-orang berdosa.
Itulah bentuk kerendahan hati dan kesederhanaan Paus sebagai Gembala Gereja. Beliau adalah gambaran sangat nyata Gembala Agung kita, Yesus. Beliau layak menjadi kiblat bagi semua Ketua Lingkungan, juga Pengurus DPH, Seksi, Prodiakon, dalam mengemban tugasnya. Boleh berbangga dengan jabatan sebagai gembala umat. Namun harus tetap fokus pada fungsi pelayanan, bukan tingkat pelayanan.
Salam sehat.
…
Jlitheng

