“Tidak hanya menutup pintu rezeki, egois itu kerdilkan diri!” -Mas Redjo
…
“Strategi bisnis?” saya bengong, menatap AS kurang percaya.
AS mengiyakan. Wajahnya cerah sumringah dan bangga. Ia tidak membetulkan konblok jalanan di depan toko. Alasannya, karena ia kontrak ruko. Seharusnya yang bertanggung jawab memperbaiki jalanan di komplek itu pengembang. Mengapa pengembang bersikap cuwek dan tidak peduli?
“Karena mobil pada melambat itu, kami didatangi pembeli. Omzet jadi naik,” jelas AS.
Saya ragu. Bisa jadi sebaliknya, kendaraan bermotor yang lewat di depan ruko AS itu tidak nyaman dan terganggu. Mereka menghindar mencari jalan lain. Pembeli juga tidak nyaman dengan jalanan yang rusak itu. AS malu dan menutupi diri? Konblok yang dibiarkan berserakan itu berbahaya dan rawan kecelakaan.
Belum lama ini, ketika lewat di depan ruko AS, saya melihat seorang Ibu yang berboncengan dengan anaknya terjatuh, karena konblok itu tertutup genangan air hujan.
“Pak AS sudah mencoba bicara dengan pengembang perumahan untuk diperhatikan agar penghuni komplek dan pengguna jalan jadi nyaman?”
“Pernah, tapi tidak ditanggapi.”
“Dengan suplayer barang-barang? Khususnya yang masok di toko Bapak,” saran saya.
“Maksudmu?”
“Saya pernah minta bantuan dana ke suplayer, tempat mengambil banyak barang, khususnya yang kirim menggunakan truk besar. Mereka juga mempunyai adil, jalan jadi rusak. Puji Tuhan diberi.”
“Toko saya kecil, kebutuhan belum banyak.”
“Tidak ada salahnya dicoba,” saran saya.
Tiba-tiba pecahan konblok melenting mengenai etalase hingga kaca jadi pecah berantakan. Kami kaget. Bagaimana, jika mengenai tubuh ini?
“Tidak harus mengumpat, Pak. Kita bersyukur tidak kena konblok,” gurau saya mengurai kekagetan.
Pak AS tersenyum kecut. Ia berjanji mau mengusulkan hal itu ke suplayer.
Saya mengiyakan, lalu pamit. Saya percaya, jika jalan di depan ruko AS itu diperbaiki, omzetnya naik dan lebih baik.
Semoga perbaikan jalan itu segera terealisasi, dan tidak timbul korban motor jatuh atau terkena pecahan konblok…
…
Mas Redjo

