Simply da Flores
…
Purnama di Pelukan Oktober
Aku ingin menjadi waktu
tanpa jerat angka dan kata
Sedangkan engkau
kuingin menjadi ruang tanpa batas dan sekat
Sehingga
kita bisa bersama di mana-mana pun dan kapan pun
Duduk, berdiri, berjalan
juga berlari dan terbang
dengan sayap-sayap angan dan energi mimpi
Aku baru sadari
ketika sejumlah kata menikam jemari
dan untaian kalimat mencengkram wajah fakta
Bahwa
aku telah diperanakkan kata-kata
dalam batas angka dinamika waktu
dan engkau dilahirkan untaian kalimat
dalam jarak perubahan sekat-sekat penghalang ruang bersemi
Lalu tentang relasi kita
Sering kucoba menjadi lebah, kumbang dan kupu–kupu
dan memaksamu menjadi aneka kembang bunga
Pernah kubayangkan…
diriku seperli bentangan biru samudra
berlari dalam gelombang hasrat dan menjelma menjadi jutaan ombak
Siang malam menghampiri dirimu
seperti hamparan pasir pantai
yang lunglai terluka dalam sunyi
Saat tertentu…
Aku ingin menjadi cahaya mentari
dan menyinari engkau seperti bulan dan bintang
Aku ingin menjadi
yang bukan diriku
dan bukan pribadimu
Merdeka hidup di negeri mimpi
dan bernafas dalam ‘tifu-tifu’
Laksana buih ombak dan angin samudra birahi
Pilihan kata-kata
untuk merangkul hakikat fakta
ternyata hanyalah keterasingan diri dari takdir alam
Rangkaian kalimat dan bait syair romantis
ternyata hanya serpihan kesepian dan reruntuhan kesadaran dari kodrat semesta
Kita cuma bagian kecil dari misteri semesta maha luas
Kita hanya serpihan fakta
dalam ajaibnya bentangan waktu tak terhingga
Malam ini…
ketika kulihat pesona purnama di pelukan bulan Oktober
Ada rasa cemburu
pada sayap-sayap rindu damba
yang terbang tinggi menggapai angkasa cinta
Ada rasa malu yang tragis konyol
pada telapak kumal kesadaran
karena memaksakan jejak kaki
untuk tidak berpijak di debu tanah hakikat realitas
karena yakini jemari tangan mampu memetik bulan dan planet
Mungkin sudah takdir semesta
manusia mewarisi darah daging nafas paradoks
Hasrat, rindu damba, mimpi, kesadaran, suka duka, jasmani rohani
Berubah dalam irama dinamika silih berganti menjadi musuh sekaligus sahabat dalam jagat kecil pribadi manusia dan jagat raya
Entah siapa yang tahu pasti
seperti purnama dalam pelukan Oktober

