Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Kata-kata atau tuturan adalah ekspresi dari pikiran dan perasaan sang manusia.”
(Didaktika Hidup Sadar)
…
“Katakan tidak, pada korupsi!”
Saya dan tentu Anda masih sangat ingat akan sebuah slogan atau seruan berupa sebuah tekad yang dilontarkan secara bergantian oleh sejumlah tokoh penting dalam sebuah partai politik di negeri kita ini.
Tentu, seruan berupa slogan ini merupakan sebuah kampanye, agar masyarakat atau siapa pun juga, agar tidak sudi melakukan tindakan tercela, berupa korupsi.
Di sisi lain, tentu mereka mau menunjukkan eksistensi diri mereka agar dapat dipercaya oleh warga masyarakat, bahwa mereka mewakili partai politik yang sungguh bersih, karena sangat anti pada tindakan korupsi.
Lain di Mulut Lain di Hati
Jika Anda sungguh cermat dalam hidup ini, ternyata tidak semua slogan atau sumpah serapah yang kelak dapat dipegang kebenaran serta keabsahannya. Bahkan seringkali, justru ibarat jauh panggang dari api.
Maka, itulah sebabnya, mengapa pentingnya kita hidupi spirit dari kata-kata kunci seperti, ‘konsistensi, komitmen, dan berintegritas’ yang seharusnya dapat jadi spirit di dalam hidup kita. Keutuhan dan kualitas berupa nilai sebagai roh murni dari kata-kata itu perlu disakralkan oleh kita sabagai agen hidup.
Bahkan sebagai sebuah ironi, pernah diciptakan sebuah lagu cinta yang mau mendeskripsikan sikap ingkar di dalam proses ikat janji untuk bersikap setia dalam proses cinta.
“Memang lidah itu tidak bertulang, tinggi gunung seribu janji, lain di bibir lain di hati,” demikian sepenggal kecil dari syair lagu itu.
Mengapa Manusia suka Ingkar Janji?
“Errare humanum est,” Bersikap khilaf adalah kelemahan dasar dari makhluk manusia. Rupanya realitas sikap ketidaksetiaan ini sudah menyejarah dan terendus pula via lorong kultur di semua bangsa.
Secara religi spiritual, (alkitabiah), kisah pedih pilu soal ‘ingkar janji’ dari kedua manusia pertama, Adam dan Hawa, bukankah sudah diawali di Taman Eden?
Tentu Anda dan saya pun segera mengiyakan, soal betapa lemah serta rapuhnya manusia untuk bersikap setia, bukan?
Hal ini tentu didasarkan atas banyak pengalaman dari kehidupan riil harian kita. Bahkan termasuk sikap ingkar janji yang pernah dislogankan oleh sebuah partai politik via layar kaca. “Katakan tidak, pada korupsi.” Karena setelah itu, melelehlah power dasyat dari roh slogan yang juga bernuansa politik itu.
Berani Berkata, Tidak!
Kita semua seharus perlu bersikap berani untuk berkata, tidak dalam hal apa?
Dalam konteks ini, tentu harus disadari pula, bahwa sebuah slogan yang diucapkan adalah sebuah janji agung kepada kehidupan. Bahwa Anda mengucapkan sebuah janji atau sumpah, sesungguhnya bukan untuk kepentingan Anda sendiri saja, bukan?
Hendaklah setiap orang perlu bersikap jujur, tulus, dan rendah hati untuk bersikap berani menyadari kelemahan diri. Hal itulah yang perlu Anda berani untuk berkata, tidak!
Artinya, saya perlu berani untuk berkata tidak, kepada diri sendiri, atasan, orangtua, negara dan bangsa, kepada agama saya; dan saya berjanji untuk tidak mengulanginya lagi!
Mari sadarilah, apa saja kelemahan yang paling mendasar di dalam diri kita masing-masing.
Cacat cela itulah yang perlu kita tinggalkan!
…
Kediri, 11 Desember 2024

