Titik terendah hidup sering kali hadir tanpa peringatan, bak badai yang mengguncang segalanya. Namun, di balik badai itu selalu ada pelangi, dan memberi terang untuk bangkit dari keterpurukan sebagai tanda, bahwa kita memiliki kekuatan lebih dari yang kita bayangkan. Sikap yang tepat itu bukan bertahan, melainkan melangkah lebih jauh dari yang bisa kita pikirkan.
Saya pernah mengalami titik terendah itu. Dua kali.
Pada saat-saat seperti itu:
Satu tangan yang kau ulur, ketika seorang jatuh itu jauh lebih berharga daripada seribu tangan yang bertepuk, ketika orang itu sedang berjaya.
Selembar uang ribuan yang kau berikan pada seorang yang sedang terpuruk itu bernilai seribu kali lebih berharga ketimbang nasihat, bahwa hidup harus berjuang dan tidak menyerah.
Ketika saya diizinkan bangkit oleh Tuhan, kulakukan hal yang sama untuk teman-teman yang terpuruk. Alhamdulillah hidupnya membaik, tugas sebagai orangtua tuntas dan memiliki jaminan hari depan dengan usahanya. Nderek bingah!
Salam sehat.
…
Jlitheng

