“Pucuk dicinta ulam pun tiba. Jika berjodoh itu tidak lari ke mana.”
Bagaimana tidak. Semula Pak HS
ke rumah itu sekadar silaturahmi. Ia bersama istri dan kedua putrinya. Lalu disusul dengan saling kunjung-mengunjungi, hingga berbincang dari hati ke hati.
“Bagaimana, kalau kita besanan, Pak,” pancing Pak HS.
Saya terperangah, meragukan pendengaran sendiri. Tapi melihat senyum penuh arti dari istri Pak HS itu membuat saya jadi mahfum.
Ternyata anak saya, ME sering ke rumah Pak HS untuk mengajak putrinya, NW ke luar. Tapi jodoh dan besanan itu, apa tidak terlalu cepat?
“Jujur, saya senang sekali besanan dengan Bapak. Kita berteman cukup lama dan saling tahu. Tapi masalah hati anak muda…? Kita lihat dan tunggu saja,” jawab saya lirih. Menjodohkan anak seperti zaman bahuela itu konyol, pikir saya. Anehnya, dada ini berdesir bahagia.
“Kita maklum. Saya sreg dengan ME,” kata Bu SL menimpali sambil tertawa renyah.
“Idem dito saya juga sreg dengan Mbak NW, Bu,” celutuk istri saya.
Ketika pembicaraan cocok dan klop itu ibarat tumbu ketemu tutup. Suasana pertemuan itu makin meriah, semarak, dan berlimpah sukacita.
Ternyata kemeriahan pertemuan itu tidak lama. Menjelang tengah malam, ketika menuju pulang, hp saya berdering.
ME menelepon. Ketika telepon itu saya angkat, ternyata suara di seberang itu bukan ME, melainkan orang yang tidak dikenal! Kontan jantung saya berdenyut kencang.
Inti dari pembicaraan itu adalah, ME digerebek oleh warga, karena main di rumah seorang gadis, melewati batas waktu. ME disuruh mengawini gadis itu!
Jadi ME tidak pergi dengan NW? ME pergi dengan gadis yang mana lagi? Masih ada juga musim gerebek di zaman digital ini?
Seabrek pertanyaan itu menyerbu pikiran saya bersamaan dengan tubuh ini serasa diguncang-guncang istri.
Saya kaget dan gelagapan. Ternyata saya mengigau, dan dibangunkan oleh istri.
“Makanya, jangan tidur sore-sore, pamali,” guraunya.
“Di mana ME?”
“Pergi dengan NW.”
Saya menarik nafas lega.
“Saya bermimpi ME digerebek oleh warga,” desah saya lirih. Istri saya ternyum manis. “Ada apa?”
“Mas ingat, ketika awal kita jadian? Bapak kurang setuju, karena Mas belum bekerja. Lalu Mas ngomong apa? Jika orangtua menolak, Mas mau minta tolong hansip untuk ditangkapin agar dikawinkan. Makanya, kalau ngomong itu hati-hati. Kata-kata itu doa,“ omel istri mengingatkan.
Saya nyengir.
…
Mas Redjo

