“Menghidupi rasa syukur dengan berbuat baik dan amal kasih itu kebanggaan kita sebagai anak-anak kehidupan.” -Mas Redjo
…
“Karena ‘urip kuwi urup’. Hidup bermakna bagi sesama.”
Saya termotivasi dan terinspirasi dengan teladan hidup biarawan-biarawati. Mereka hidup selibat untuk mengabdi dan melayani Tuhan.
Ketika es-em-pe saya bermaksud masuk ke Seminari, tapi niat itu ditentang oleh orangtua dengan segudang alasan yang membuat saya tidak berkutik, kecuali diam dan menurut.
Seiring perjalanan waktu, niat baik masa kecil itu makin menggelora dalam jiwa saya. Tidak untuk jadi biarawan atau rahib. Karena saya sudah berkeluarga dan memiliki anak. Tapi saya ingin mempunyai anak-anak rohani.
Dengan menikah, kita mempunyai keturunan. Mereka adalah anak-anak jasmani. Sedang anak rohani adalah iman yang terus bertumbuh kembang dan berbuah.
Saya menghidupi iman Kristiani itu dengan cara merenungkan dan memelihara Firman-Nya serta meneruskan pada sesama.
“Menghadirkan wajah kasih Tuhan dalam hidup keseharian,” itu yang saya jalani tulus hati, karena saya juga diberi-Nya secara cuma-cuma pula.
Sejatinya dengan bervisi misi niat dan tekad baik, kita memberikan hidup ini untuk berbagi tulus hati, sehingga dipastikan anak-anak rohani kita makin berkembang serta beranak pinak.
…
Mas Redjo

