“Ketika kaya, kita didatangi banyak teman. Tapi di saat terpuruk dan miskin, teman dan sahabat itu pergi meninggalkan kita.” -Mas Redjo
…
Fakta itu nyata. Tidak bisa dibantah dan diganggu gugat. Tapi anehnya, realita itu tidak berlaku bagi Pak AT.
“Orang yang ikhlas hati itu, ketika membantu orang lain tidak merasa kehilangan. Ia sekadar menyalurkan berkat Tuhan,” kata Pak AT tenang dan datar, bahkan tanpa emosi.
Saya terperangah, dan meragukan pendengaran sendiri. Tapi faktanya Pak AT serius. Mungkinkah semua itu akibat okumulasi kekecewaan yang menumpuk, lalu ia putus asa?
Keraguan saya tentang sikap Pak AT itu perlahan-lahan runtuh. Sorot mata yang jernih dan bening itu tidak menyimpan kepura-puraan, tapi terpancar cahaya dari kedalaman jiwanya.
Saya kenal dekat dengan Pak AT, karena bertetangga. Saya juga melihat jatuh bangun usahanya. Yang terparah itu, ketika ia ditipu oleh orang kepercayaan yang adalah sahabatnya sendiri, hingga alami rugi besar, dan bangkrut.
Ternyata sahabat Pak AT itu terjerat judol, dan berakhir dengan hukum; dibui untuk pertanggungjawabkan perbuatannya.
“Jika semua ini jalan hidup saya yang jadi kehendak-Nya, ya, harus diterima dan disyukuri,” kata Pak AT lirih, mencoba tabah, sabar, dan ikhlas.
Saya salut sesalutnya dengan sikap Pak AT dalam menjalani hidup ini. Pengendalian dirinya tenang, sabar, dan rendah hati.
Awal kenal dengan Pak AT hingga usahanya cukup sukses, ia tampil bersahaja dan tidak sombong. Rasa kepeduliannya terhadap orang lain itu tidak diragukan. Ia juga senang berbagi.
Saya sungguh salut dan angkat topi pada Pak AT. Meski didholimi, atau tepatnya uangnya dirampok, ia tetap memaafkan dan mengasihi sahabatnya itu.
“Mungkin, secara pelan tapi pasti, saatnya saya undur diri,” komentar Pak AT tanpa beban seperti tidak mengalami pengalaman pahit itu.
Hati saya mengharu biru. Meski dikhianati sahabatnya, Pak AT menunjukkan berjiwa besar dan murah hati.
Dimiskinkan materi, tapi kaya rohani.
…
Mas Redjo

