Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Keberanian Sejati adalah Bara Api Hangat Membara”
(Didaktika Hidup Sejati)
…
Pemberani Sejati Teguh Berprinsip
Pernahkah membaca, mencermati, dan menghayati riwayat hidup para pemberani sejati di dalam perjalanan sejarah peradaban umat manusia?
Hal-hal apa yang paling kuat dan justru telah jadi senjata pamungkas paling ampuh dalam hidup serta pemikiran mereka?
Ternyata mereka adalah sosok-sosok pribadi yang tidak asal berkotek, berargumen, dan juga tidak sekadar membuka mulut serta bernyanyi sumbang seperti yang sering terjadi di kalangan masyarakat kita.
Namun apa senjata pamungkas mereka? “Keberanian dalam berprinsip dan memperjuangkan kebenaran sejati.” Inilah titian emas murni bagi hidup dan mati mereka.
Para Tokoh Agung Dunia
Kita mungkin sangat mengidolakan prinsip-prinsip gigih teguh dan tajamnya taring sejati dari sejumlah kecil tokoh dunia, seperti: filsuf agung Socrates, presiden pendamai Abraham Lincoln, Santa kaum miskin Bunda Theresa, bijaksanawan Mahatma Gandhi, juga si arif Nelson Mandela.
Apa yang jadi senjata andalan mereka? Sekali lagi, hal yang saya tegaskan, bahwa mereka memiliki “prinsip-prinsip agung dan sikap keberanian sejati.”
Potret Kedigdayaan Socrates
Siapa yang tidak mengenal dan bahkan tak mengidolakan Socrates? Siapakah yang masih menantang prinsip-prinsip teguh agung yang diperjuangkannya?
Secara historis, bahwa hingga saat ini, dunia belum melupakan keberanian filsuf yang lahir pada tahun 469 SM itu.
Adapun titik baling hidup dari Bapak filsuf Barat sebagai pembentuk jalan pemikiran umat manusia yang kita anut hingga detik ini, justru ketika ia dengan gagah berani rela untuk mati.
Di saat ia diadili lewat persidangan (399 SM) oleh ketiga orang warga Athena (Meletus, Anytus, dan Lyon), dengan dua buah tuduhan tidak mendasar, dia tetap bertahan pada prinsip-prinsip kejujurannya.
Tuduhan pertama, ialah Socrates tidak bersikap sopan kepada Panteon Athena. Tuduhan kedua, bahwa ia telah meracuni dan merusak akhlak kaum muda Athena.
Lewat kedua tuduhan tidak mendasar itu, maka ia diputuskan untuk dihukum mati dengan cara meminum segelas racun.
Terhadap keputusan itu Socrates tidak pernah mengendurkan atau mengubah prinsip-pribsip teguh dalam berpikir. Dia bahkan dengan gagah berani bersedia untuk meneguk segelas racun.
Sang Pembernani yang Berani Menyangsikan
- Ketika Anda teguh untuk berani bersikap jujur, maka bersiaplah, Anda akan berjuang seorang diri.
- Anda akan melintasi jalan dan lorong-lorong waktu yang paling sunyi.
- Pada saat itu, sejatinya Anda sedang melintasi jalan yang pernah dilewati oleh para pemberani sejati.
- Itulah sebuah jalan penyangsian, jalan yang paling sempit, tapi juga paling mulus menuju suatu kemenangan abadi.
Maka, mari kita belajar untuk hidup berprinsip dan teguh berpendirian.
Tanpa keberanian, Anda hanyalah ibarat seekor kodok di dasar sungai!
“Sapere Aude”
Beranilah Bersikap Sendiri!
…
Kediri, 1 Desember 2024

