“Hidup bakti pada orangtua itu membahagiakan jiwa. Bakti pada Tuhan, kita jadi pelaku dan pewarta Firman-Nya.” -Mas Redjo
…
Sesekali rasa kecewa dan sedih itu menghinggapi pikiran saya. Ketika usaha saya mapan, kedua orangtua telah berpulang. Padahal saya belum membahagiakan mereka.
Ketika saya bermaksud mengajak Ibu Bapa pindah ke Ciledug dan tinggal bersama, mereka dengan tegas menolak. Alasannya, tidak kerasan tinggal di pinggir jalan raya dan tidak mempunyai tetangga. Karena ada pembantu, mereka jadi menganggur. Tubuh jadi pegal dan sakit. Sedang di kampung, mereka biasa bekerja.
“Ibu Bapak senang usahamu maju dan anak-anakmu sehat,” kata Ibu sambil mengusap-usap kepalaku.
Ibu Bapak juga membuka wawasan berpikir saya, membahagiakan itu tidak sebatas memanjakan dengan kelimpahan. Tapi yang utama dan pertama itu taat, karena hormat dan patuh pada orangtua.
Pikiran saya dicerahkan oleh Firman Tuhan, “Hai, anak-anak, taatilah orangtuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian” (Efesus 6: 1).
Tuhan menghormati ketaatan. Juga ketaatan itu bukan hanya disiapkan untuk orangtua dan anak-anak. Tapi anak diminta untuk mematuhi orangtua. Dalam 1 Samuel 15: 22, Tuhan juga menjelaskan bertapa pentingnya ketaatan. Ketaatan bahkan dianggap jauh lebih penting daripada pengorbanan. Ketaatan itu sangat penting bagi Tuhan. Makin anak-anak itu bersikap taat, kian mudah mereka hidup taat kepada Tuhan. Karena itulah peran orangtua dalam membesarkan anak-anak yang akan mengikuti dan menaati Tuhan.
Sejatinya, mendengarkan itu lebih baik dari pada korban sembelihan, dan memperhatikan itu lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.
Hidup bakti pada Tuhan itu harus senantiasa dihidupi oleh kita yang percaya dan mengimani-Nya. Dengan jadi pelaku dan pewarta Firman-Nya.
Tuhan memberkati.
…
Mas Redjo

