Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Berpikir itu sebuah seni : sampaikan dengan tegas, dengarkan dengan tulus, dan hargailah perbedaan. Karena suara yang baik dan benar tak hanya didengar, tapi juga dirasa serta dipahami.”
(Motivasi Hidup Kebaikan)
…
| Red-Joss.com | Setalah membaca dan mencermati judul tulisan ini, mungkin ada orang yang akan segera mengernyitkan kening. Hum, apa maksud dan maknanya?
Hal ini dapat diterima dan masuk di akal sehat manusia. Apa kaitan antara sang Biarawan dengan kedua ekor binatang pemangsa nan ganas brutal itu?
Tulisan ini memang berupa sebuah motivasi hidup untuk kita, Anda dan juga saya.
Kisah Persahabatan tak Lazim
Kita: (makhluk manusia, hewan, serta tumbuhan), secara antropologis adalah sama-sama sebagai ciptaan Tuhan. Sebagai makhluk yang bernaluri, tapi hanya manusia yang memiliki akal dan budi.
Suatu kesempatan, ada dua bersahabat yang bersama bernaung di bawah sebuah batu besar. Siapakah mereka? Keduanya adalah singa dan harimau.
Keduanya, memang sering bertemu di saat masih sangat muda. Rupanya keduanya sungguh tak sadar, bahwa sejatinya, mereka memang tak mungkin hidup berdampingan.
Di pegunungan yang berhawa sejuk itu, hiduplah juga seorang Biarawan saleh. Dia juga sangat disegani oleh kedua hewan ganas itu.
Suatu kesempatan, keduanya jatuh dalam sebuah ajang pertengkaran hebat.
“Semua orang tahu, bahwa udara dingin dapat datang saat bulan sabit menuju bulan mati,” celetuk Harimau. Tapi Singa berargumen, “Dari mana Anda mendengar omong kosong itu. Bukankah semua juga tahu, bahwa hawa dingin itu datang saat bulan sabit menuju ke bulan penuh?”
Perbedaan pendapat nan tajam menghujam hulu nurani itu, ternyata tak mampu keduanya tuntaskan. Maka, keduanya bersepakat untuk memohon bantuan dari Biarawan saleh itu.
Setibanya di pertapaan, keduanya dengan tegas menyampaikan maksud dan alasan kedatangan mereka.
Setelah keduanya menjelaskan alasan dan inti dari masalah pertengkaran mereka, Biarawan itu dapat memahaminya.
Biarawan berpikir sejenak, katanya, “Dingin dapat terjadi dalam setiap fase bulan, dari bulan mati menuju bulan purnama dan akan kembali ke bulan mati lagi. Anginlah, yang membawa udara dingin. Apakah dia datang dari Utata, Selatan, Timur, atau Barat.”
Dengan sambil memejamkan mata, Biarawan itu melanjutkan, “Kedua pendapatmu itu sama benar. Karena berbeda pendapat itu lumrah dan biasa; hiduplah sebagai sahabat.”
(Dari Aneka Sumber)
Amanat nan Agung
Bukankah “berpendapat itu adalah sebuah seni untuk berbicara indah?” ‘Ars bene discendi’, kata orang Latin.
Maka, hal mendasar yang justru jadi esensi dasar di dalamnya adalah mendengarkan dengan ketulusan hati, dan menghargai setiap detil perbedaan.
Karena suara yang baik dan benar itu, tidak hanya dapat ditangkap oleh daun telinga, namun juga akan dipahami serta dihayati oleh seluruh personalitasmu!
Maka, sungguh berbahagialah orang-orang yang sanggup untuk hidup dalam suatu persahabatan sejati!
Aura persahabatan sejati itu ibarat tumpahan air teh hangat ke baju sang sahabat. Ia memang tak sanggup melihatnya, namun sungguh dapat merasakan kehangatannya!
…
Kediri, 24 November 2024

