| Red-Joss.com | Mempunyai mata itu untuk melihat dan mempunyai telinga itu untuk mendengar.
Mata dan telinga yang kita punyai itu harus difungsikan dengan sebaik-baiknya. Kedua panca indera ini harus bisa mendatangkan kebaikan untuk kehidupan kita.
Jangan sebaliknya, mata dan telinga kita, karena tidak difungsikan dengan baik, justru menjadi beban untuk hidup kita dan mendatangkan banyak keburukan (dan dosa). Bisa ya, seperti itu? Bisa! Misalnya …
Terkait dengan mata, cara pandang kita – cara berpikir kita – cara memfungsikannya:
Selalu melihat hal-hal yang buruk/negatif, baik pada diri sendiri, maupun kepada orang lain. Sehingga bukannya energi yang positif yang masuk, melainkan energi yang negatif.
Jika terus-menerus dibiarkan, hal itu benar-benar ini akan meracuni diri kita. Yang paling nyata adalah membuat struktur cara pandang dan cara berpikir kita selalu negatif. Kadang, kita dibuat bingung dengan diri sendiri, atau ketika berhadapan dengan pribadi-pribadi yang seperti ini, kok rasanya semuanya serba negatif. Oh, hal itu ternyata diawali oleh mata kita sebelumnya yang sudah terbiasa melihat hal-hal yang buruk/negatif. Maka, mata kita harus dilatih lagi, sehingga mempunyai cara pandang yang berbeda, dan pada akhirnya mempunyai cara berpikir yang berbeda pula.
Kemudian, selalu menggunakan mata untuk melotot, karena marah, menakut-nakuti, atau menunjukkan kebencian dan rasa tidak suka.
Tidak terpancar wajah persahabatan, karena sorot mata yang sungguh membuat tidak nyaman itu.
Sorot-sorot mata seperti ini mudah sekali dikenali. Sebab sorot mata seperti itu memang langsung berhadapan dan kita merasakannya.
Itulah sebabnya, yang terjadi, dari sorot mata kita atau kawan bicara itu, kita tahu posisi sendiri: kita diterima atau ditolak, menerima atau menolak.
Tidak ada yang bisa disembunyikan dari mata kita. Karena mata itu mudah menangkap rasa.
Akhirnya, mata selalu melihat hal-hal yang tidak mendatangkan rahmat, tapi dosa. Contohnya: melihat hal-hal yang berbau pornografi, melihat kekerasan lalu juga melakukan kekerasan, melihat kebohongan lalu juga jadi pribadi yang suka berbohong, dan seterusnya.
Itu juga dimulai dari mata kita. Maka, mata kita ini harus juga mendapatkan pendidikan yang baik.
Jelas, saatnya sekarang juga!
Mempunyai mata untuk melihat. Apa yang mesti dilihat? Tentu saya tidak mau mengajari lagi.
Saya yakin semua sahabat tahu yang harus dilakukan dan yang mesti dilihat oleh kedua mata itu.
Terkait dengan telinga kita, cara mendengarkan, mengatakan, dan cara kita memutuskan:
Telinga mudah termakan oleh berita hoaks, gosip, atau berita yang belum 100% benar. Tapi kemudian kita ikut menyebarkannya.
Apalagi, jika sumber pembawa beritanya itu ‘ember’ atau seperti penjual jamu pasti makin meyakinkan dan kita jadi ikut terpengaruh.
Telinga bisa mendengarkan, tapi tidak melakukannya. Kita bisa menyebutnya ini ‘bebal’. Atau dalam bahasa rohani ‘tidak taat’. Terlalu banyak berkata ‘iya’, tapi tidak ada tindakan sama sekali.
Telinga bisa mendengarkan, tapi hatinya ditutup rapat-rapat. Misalnya Sabda Tuhan. Mendengarkan Sabda-Nya itu bisa tiap hari, tiap minggu, tapi, karena hatinya terus dikunci, maka setiap sabda yang didengarkan oleh telinga, ya berlalu begitu saja.
Sabda Tuhan jadi sia-sia untuk hati yang tertutup dan terkunci itu.
Ibaratnya, seperti benih Sabda Tuhan yang ditabur di jalan, ya, mudah hilang.
Apakah kita tetap seperti itu, setelah bertahun-tahun jadi pengikut Tuhan Yesus? Berubahlah! Sebab Kerajaan Allah ada di antara kita. Dekat dengan kita.
Bukalah hati ini untuk Sabda-Nya dan belajarlah untuk mendengar dan mengerti dengan baik.
Mempunyai telinga untuk mendengar. Apa yang mesti didengar? Tentu saya tidak mau mengajari lagi.
Tanggung jawab kita semuanya untuk memfungsikan mata dan telingga kita dengan baik, supaya kita tidak gagal melihat kebaikan dan kita tidak gagal mendengar berita kebaikan.
Sebab dari kedua panca indera ini, kita bisa melanjutkan kebaikan dan kasih Tuhan kepada para sahabat kita yang lain.
“What do you see first today? What do you hear first today?”
Christianity is love. It means spreading love all around us. Tuhan memberkatimu. Amin.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

