“Jangan malu dengan pekerjaan kasar, tapi kita harus malu, jika bersikap kasar.” – Mas Redjo
…
Akhirnya kabar yang tidak sedap itu sampai ke telinga saya juga. Saya dan istri dianggap tidak tahu malu, karena memulung buah-buahan di tempat pembuangan sampah pasar.
Saya dan istri tidak menanggapi muonyiran itu atau mengadakan pembelaan diri, kecuali diam dan memaklumi.
Menilai dari dari kacamata sendiri, buruk, dan cenderung negatif itu hal biasa. Mereka tidak tahu tujuan kami memulung. Mereka melihat hanya bungkusnya, tidak pada isinya.
Saya ingat cerita teman, HR yang memulung sampah sayur-sayuran untuk makanan ternak babi.
Suatu hari sopir HR minta izin ke luar kerja, karena diketahui teman sekampung sedang mengumpulkan sampah sayuran di pasar. Padahal, ketika masuk dulu, kerja sopir itu serabutan. HR mempunyai pabrik kerupuk dan peternakkan babi di Gunung Sindur, Bogor.
Perasaan malu dan gengsi itu biasa menghinggapi diri ini. Kita sering berkamuflase untuk menutupi fakta.
Kita malu, karena sebagai pekerja kasar, rendahan, dan gaji kecil. Padahal lulusan perguruan tinggi.
Kita gengsi, karena dari bekerja itu tidak mampu mencukupi kebutuhan sendiri. Bahkan tidak sedikit di antara kita yang terlibat pinjol demi gengsi. Atau judol agar cepat kaya. Meski faktanya mimpi nan indah itu berubah jadi kelam dan pahit getir.
Sedang saya memulung buah atau sayuran itu untuk dibuat eco enzym yang multi manfaat. Selain tentu, untuk mengurangi limbah rumah tangga.
Mengapa mesti malu hati, karena kita bekerja kasar dan gaji kecil? Ke mana hilangnya rasa bersyukur itu?
Jika ditanya, apakah saya malu, ketika memulung diketahui banyak orang? Jawaban tegas saya: tidak! Selama saya tidak melakukan perbuatan tercela, mencuri, dan melanggar hukum. Saya bekerja dan mencari uang secara halal. Saya tidak merugikan orang lain, menghalalkan segala cara, dan apalagi mencuri uang haram.
Saya memulung sayuran dan buah-buahan untuk dibuat eco enzyme. Sedang saya ibarat anak yang hilang, pendosa yang dicari dan dipulung oleh Tuhan Yesus, sang Gembala Baik untuk ditemukan kembali. Lalu dipanggul di bahu-Nya.
Tuhan mengasihi para pendosa, tapi Dia membenci perbuatan dosa mereka!
Saya memulung, memanfaatkan limbah sampah, karena saya ingin hidup berarti bagi bumi ini.
…
Mas Redjo

