Mengutip pernyataan Plato, bahwa “Jejak langkah kita di masa lalu adalah bayangan yang akan selalu mengikuti, apakah itu terang atau gelap.”
Sadar atau tidak, jejak-jejak itu nyata atau digital, mencerminkan identitas dan membentuk narasi tentang siapa kita, apa yang kita lakukan, dan apa yang kita nilai. Dari unggahan di medsos sampai riwayat pencarian, jejak tersebut memperlihatkan kepada dunia tentang sebagian dari identitas kita yang mungkin tidak pernah kita sadari sebelumnya.
Jejak-jejak itu menyiratkan hasrat kepada dunia, bahwa dengannya seorang tidak ingin ‘cepet muspro tanpo guno’, atau sebaliknya ingin tetap punya arti migunani. Lewat sepenggal sapa, sejengkal langkah, seurai kalimat, segerak tindakan … Jejak-jejak itu menarasikan siapa diri kita dan arti penting hidup ini.
Prinsipnya: “Usiamu jangan sampai melarutkan jejakmu. Jejakmu jangan pudar oleh ‘wow’ yang berlebih …”
Salam sehat dan migunani.
…
Jlitheng

