“Kemudahan yang diberikan orang lain itu sebagian kecil dari fasilitas yang dianugerahkan Tuhan agar dimanfaatkan dengan bijak.” – Mas Redjo
…
Jangan disepelekan dan disalah-gunakan agar orang yang memberi fasilitas itu tidak kecewa dan kapok. Riilnya, bagaimana dengan sikap kita sendiri, jika dikecewakan?
Karena itu, saya kaget, ketika anak bungsu saya tidak mau difasilitasi. Ia ingin mencoba dulu, dan belajar mandiri.
Saya salut, tapi tidak ikut campur. Bahkan mengapresiasi tekadnya. Tugas dan peran saya sebagai orangtua itu memberi, mengawasi, mengingatkan, dan mendoakan yang terbaik untuk anak.






Saya tidak pernah melarang anak, asal yang dilakukan itu hal positif, tidak membahayakan keselamatan jiwa, dan tidak merugikan orang lain.
Semangat kepedulian anak itu saya terapkan sejak dini. Tujuannya agar anak tidak egoistis. Tapi miliki sifat peduli, berempati, berbela rasa, dan berbagi pada orang lain.
Ketika anak ingin membuka usaha peralatan laundry, mulai dari rinso, pewangi, pemutih, mesin cuci, dan sebagainya. Saya langsung meng-acc dan mengiyakan. Asal tidak menabrak aturan. Jujur, mengikuti prosedur, dan tertib perundangan. Termasuk mengurus izin produksi, meski jualan online.



Hidup ini diibaratkan membangun kepercayaan dari awal hingga akhir agar tidak disia-siakan. Tapi untuk dipertanggungjawabkan kepada Tuhan yang anugerahi hidup ini. Intinya, agar anak hidup jujur pada diri sendiri dan sesama.
Begitu pula dalam berbisnis agar anak membangun relasi itu dengan jujur dan menjual kualitas. Jangan membuat pelanggan kapok. Untung kecil, tapi hubungan memanjang dan langgeng.
Anak juga menolak, ketika saya berniat memfasilitasi tempat usaha. Yang dimintanya adalah restu dan doa ikhlas saya. Anak kontrak ruko untuk pengembangan usaha.
Saya terharu, tapi bangga dengan keteguhan hatinya.
“Selamat berjuang, Nak. Tuhan memberkati.”
…
Mas Redjo


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.