Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Suara kebenaran itu sering mengombang-ambingkan hati manusia.”
(Gema Suara Sang Kebenaran Sejati)
…
Suara (Vox): sejatinya bukanlah sekadar bebunyian tak bermakna atau bebunyian yang tidak keruan. Melainkan, ia sedang menggemakan sesuatu, baik berupa sebuah perintah penting, sejumlah informasi, sebuah komando, pengajaran, atau berupa sebuah teguran.
Suara dari Padang Gurun
Dalam konteks rohani, kepada kita diingatkan kembali agar sudi mengenang dan merefleksikan, apa makna secara iman akan seruan Yohanes Pembaptis di padang gurun.
“Luruskanlah jalan bagi Tuhan. Setiap lembah yang berlekuk-liku perlu diratakan.” Seruan ini, konteksnya agar kita perlu menyiapkan hati untuk menyambut kedatangan Tuhan. Tegasnya, bahwa kita perlu segera bertobat.
Suara Kebohongan
Ternyata suara-suara itu bisa membingungkan dan bahkan mengacaukan kehidupan. Inilah yang dinamakan polusi suara yang berupa suara kebohongan (hoaks).
Ada pun dampak negatif dari suara kebohongan (hoaks), adalah suara-suara yang berdampak menimbulkan keributan dan situasi riuh rendah.
Masih ingatkah kita pada suara menggema di ajang sebuah kampanye politik atau suara sirene kendaraan, atau bahkan pada suara palsu berupa sebuah provokasi?
Vox Dei: (Suara Tuhan)
Dulu, saat masih dibangku Sekolah Dasar (SD), Guru kita cukup sering mengatakan, bahwa suara Tuhan itu berada di dalam hati kita. Suara Tuhan itu akan terdengar lewat suara hati kita. Itulah suara Sang Kebenaran.
Suara Tuhan itu justru sangat lembut, namun bisa mengusik bahkan sanggup memporak-porandakan hati manusia.
Ingatkah, bagaimana kacau dan porak porandanya hati Raja Herodes saat ia mendengar seruan Yohanes Pembaptis?
Hal ini pun mau menandakan, bahwa suara Sang Kebenaran itu memang lembut dan sayup terdengar, namun sanggup menggoncangkan nurani manusia.
Yakinkah kita, bahwa suara Sang Kebenaran itu tak dapat terusik dari dalam sanubari kita? Ia akan dan selalu akan kembali menggema lembut di dalam hati kita.
Sungguh, suara Tuhan itu tidak dapat dibohongi, dimanipulasi oleh suara kebohongan dan kecurangan dalam bentuk apa pun.
Lewat amanat dari tulisan ini, semoga ruang nurani kita kembali dibersihkan dan dijernihkan demi memberikan kesempatan kepada Sang Kebenaran untuk menggemakan kehendak suci-Nya di pada gurun kehidupan.
“Barang siapa bertelinga, hendaklah ia mendegar!”
(Yesus Kristus)
…
Kediri, 20 November 2024

