Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Dua sahabat terbaik kita: antara sang waktu dan sang kesabaran.”
(Didaktika Hidup Sadar)
…
Jika suatu saat Anda ditanya, “Siapa atau apakah yang paling kuat di dalam hidupmu?” Apa jawapan Anda?
Jawapan Leo Tolstoy
“Dua pejuang terkuat di jagad hidup ini adalah sang waktu dan sang kesabaran.”
Demikian jawapan khas dari maestro novelis dan cerpenis dunia asal Rusia yang bernama lengkap Lev Nikolayeu Tolstoy (1828-1910).
Landasan Berpikir Leo Tolstoy
Mengapa beliau justru berkesimpulan demikian? Apa landasan yang mendasarinya, sehingga disimpulkan demikian?
Dua Elemen Terpenting
Bagi sang novelis dunia itu, bahwa elemen ‘kesabaran’ adalah obat yang paling mujarab, agar kita bisa bersikap ‘tenang serta tetap fokus’ pada tujuan hidup saat dihadang ganasnya gelombang hidup. Diingatkan pula agar kita bisa bersikap lebih selektif dan tidak grusa-grusu.
Sedangkan elemen ‘waktu’, memberikan kita ‘kesempatan’ untuk dapat mengubah perspektif hidup kita. Bahkan waktu dapat jadi guru kebijaksanaan bagi kita.
Bahkan keduanya pun disimpulkan, sebagai formula paling ampuh untuk mengatasi aneka problema kehidupan kita.
Beliau sungguh meyakini, bahwa semoga kedua elemen berkualitas ini, sanggup membantu kita dalam menghadapi dan menuntaskan permasalahan hidup yang terpahit sekalipun.
Refleksi Hidup Riil Kita
Setelah kita sungguh mencermati gagasan mendasar pemikiran novelis Leo Tolstoy, hal pentingnya elemen waktu dan kesabaran, yang bahkan telah dianggapnya sebagai dua buah pejuang terkuat. Apa pandangan dan pendapat Anda?
Apa hasil refleksi dan pemikiran Anda? Benarkan, bahwa kedua elemen itu (waktu dan kesabaran), telah jadi kedua pejuang terkuat di dalam hidup Anda?
Sejatinya, sering pula orang-orang mengatakan, bahwa ‘waktu adalah kesempatan.’ Juga bahkan ‘waktu dianggap sebagai rahmat.’ Bukankah hal ini mau mengisyaratkan, bahwa sesungguhnya, memang waktu itu jadi elemen terpenting di dalam hidup kita?
Di sisi lain, kesabaran juga dianggap sebagai salah satu sifat Tuhan. Kita sering beradagium, bahwa ‘penyabar itu adalah kekasih Tuhan’, bukan?
Semoga kedua elemen berkualitas ini dapat jadi kedua pejuang terkuat bagi kehidupan riil kita saat menghadapi tantangan hidup ini.
Sungguh, waktulah yang telah mengajarkan kita untuk bisa bersabar. Bukankah kesabatan kita, justru hanya terukur di dalam takaran waktu?
Jika demikian, keduanya memang telah jadi pejuang terkuat!
Itulah si Gunung Batu!
…
Kediri, 19 November 2024

