“Ketika menyanggah dan menolak kenyataan pahit itu, hati jadi terluka. Yang mensyukuri sebagai karunia Tuhan, hati jadi lega dan nyaman.” – Mas Redjo
…
Kita tidak bisa menolak rencana dan kehendak Tuhan, kecuali menjawab, “Ya, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”
Kesannya sederhana dan mudah, tapi untuk melaksanakan itu yang sulit, bahkan teramat sulit. Karena kita dituntut sadar diri dan rendah hati.
Ketika disodori peristiwa pahit atau kejadian yang tidak berkenan, kita sering kaget, termehek-merek, dan cepat reaktif. Hal itu yang membuat kita mudah tersulut emosi dan sakit hati.
Coba, sebaiknya dicoba bersabar diri, untuk mendengar dan melihat dengan hati agar kita tenang dan mampu berpikir dengan jernih.
Sejatinya kita mudah tersulut emosi, karena kita tidak sabar. Kita sering memotong pembicaraan orang, sehingga tidak mendengar semua itu secara utuh dan jelas.
Coba kita belajar untuk menghargai dan menghormati sesama. Dengan banyak mendengar, kita belajar jadi sabar, rendah hati, dan bijaksana.
Dengan mengendalikan diri, kita belajar untuk melihat hal-hal baik dan positif, sekaligus membuang prasangka buruk terhadap orang lain.
Begitu pula, ketika menghadapi dan
mengalami situasi berat nan sulit. Kita tetap bersikap tenang, berpikir jernih, sabar, dan rendah hati. Apa yang tersembunyi di balik peristiwa ini?
Mohon penyertaan, pendampingan, dan bimbingan Roh Kudus agar kita dimampukan melihat hikmat dari peristiwa hidup ini. Untuk taat dan setia kepada kehendak-Nya.
Taat itu tidak menghindar, menjauhi, dan menolak peristiwa itu. Tanpa nyinyir, menyanggah, berkonflik, atau menyalahkan orang lain. Kecuali kita berdiam, merenungkan peristiwa itu dalam hati, dan menyukuri sebagai karunia-Nya.
Setia itu menjalani dan menikmati peristiwa hidup ini dengan penuh iman, karena kita percaya kasih setia-Nya.
Waktu Tuhan pasti yang terbaik!
…
Mas Redjo

