“Hidup ini ibarat buku putih. Mau ditulisi atau dilukisi itu pilihan. Hati-hati memilih warna dalam menulis atau melukis agar tidak menyesali hasil karya sendiri.” – Mas Redjo
…
Ketika kita mencela, mencacat, dan menyesali hasil karya sendiri yang kurang bagus itu adalah tindakan emosi, konyol, dan tidak bijak.
Emosi, karena kita bertindak dulu berpikir kemudian. Menyesal juga percuma dan tiada guna. Karena nasi telah jadi bubur, dan tidak bisa mengembalikan ke bentuk semula.
Konyol, karena kita mengulang-ulang kesalahan yang sama. Alias kapok lombok. Padahal kita harus memperbaiki kesalahan itu untuk hidup yang baik dan benar.
Tidak bijak, karena kita tidak mau belajar dari pengalaman untuk melihat hikmah dari setiap peristiwa hidup ini. Tidak berani minta maaf, meski berbuat salah. Sebaliknya kita mencari pembenaran diri, dan mudah sekali menyalahkan orang lain.
Sejatinya hidup ini adalah anugerah Tuhan, kita dituntut bertanggung jawab kepada-Nya.
Sikap utama kita untuk menghargai dan mensyukuri hidup ini adalah rasa memiliki untuk memaknainya. Hidup ini adalah kesempatan bagi kita untuk melayani dan mengabdi kepada-Nya.
Tuhan adalah kasih. Lalu seberapa dekat dan akrab hubungan kita dengan Tuhan dan sesama?
Jika ingin diperlakukan baik oleh orang lain, hendaknya kita berperi-laku baik pada mereka terlebih dulu. Karena perilaku itu yang bakal jadi catatan atau lukisan di hati kita ini.
Ketika menulis salah di buku harian kita, apakah tulisan itu bisa dihapus bersih tanpa noda yang tersisa?
Tidak! Sedikit atau banyak tentu meninggalkan bekas, kotor, lecek, atau bahkan kertas itu hampir robek, jika disetip terus menerus. Karena kesalahan-kesalahan yang diulang dan akibat perbuatan kita.
Perbuatan buruk, jelek, dan salah yang kita lakukan pada sesama itu meninggalkan jejak, bahkan sulit dihapus. Jika kita tidak berdamai dengan diri sendiri untuk mengasihi dan saling ikhlas.
Berbeda hasilnya, jika kita salah dalam memilih warna untuk lukisan. Karena warna itu bisa disamarkan atau dikombinasikan dengan warna lain, sehingga lukisan itu tampak kontras, menarik, dan hidup!
Begitu pula, jika kita berbuat salah dan hidup tidak berkenan bagi Tuhan. Dengan murah hati, Dia memberi kesempatan kita untuk bertobat dan memperbaikinya. Tanpa melihat besaran kesalahan dan dosa kita. Seperti warna-warni lukisan yang disamarkan, karena Tuhan melihat hati.
Jika kita ingin menulis atau melukisi buku kehidupan ini, mohon pada Tuhan Yang Sumber Kehidupan itu agar Dia berkenan menggunakan kita sebagai alat-Nya!
Hidup bagi kemuliaan Tuhan!
…
Mas Redjo

