Menjelang tengah hari, kucari tempat tinggal baru temanku yang usianya terpaut 3 tahun lebih muda dariku. Artinya sudah di depan pintu ke tujuh puluh. Kujumpai berdua dengan istrinya sedang berbenah, karena baru beberapa hari pindah rumah kontrakan.
Tidak ada niat lain bagiku kecuali ngaruhaké keadaan mereka. Walau sèkèng, oleh usia sepuh, mereka tidak cèngèng. Beratnya hidup mereka jalani tanpa sesal, seolah ingin mengatakan… “Jalan inilah yang disediakan Tuhan untuk kami berdua meniti akhir zaman.”
Kusaksikan dua sosok sepuh itu,
tabah melangkah,
mendekap salibnya di dada,
tidak ada rintih selirih pun.
Sepi dari keluh dan serapah
tak lagi sebutir pun keringat
menetes dari tubuh renta
namun bara jiwa mereka
menembus bola matanya,
seakan berteriak: “Inilah kami, ingin mengabdi-Mu sampai hayat kami berpulang, berdua, bersama, kepada-Mu.
Demikianlah sahabat, dengan cara yang berbeda, kita lakoni hidup ini menuju akhir zaman.
Boleh susah, boleh sèkèng, namun jangan cèngèng.
Salam sehat.
…
Jlitheng

