Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Si dia yang senantiasa tulus setia bersamamu walaupun dipunggungi dalam sunyi.”
(Didaktika Hidup Sejati)
…
Pengalaman yang sungguh Menyesakkan Dada
Pernahkah Anda merasa sungguh diabaikan dan tidak diacuhkan dalam kehidupan ini? Juga pernahkah Anda diperlakukan bagaikan seorang pemain cadangan dan ternyata sikap Anda bisa menerima serta biasa-biasa saja?
Banyak orang ternyata telah merasakan, bahwa dirinya sungguh terpukul dan terbuang, karena tidak diacuhkan di dalam kehidupan ini.
Keadaan ini, ternyata sungguh telah menyesakkan dada banyak orang yang merasa diperlakukan demikian.
Fenomena Riil Hidup
Tulisan memori dan refleksi ini saya angkat bertolak dari refleksi personalku, sebagai sebuah pengalaman riil, saat saya masih sebagai seorang mahasiswa Unsri di tahun 1983- 1988 di Palembang, Sumatra Selatan.
Mungkin tidak disadari dan juga tentu tidak disengajakan, kita ternyata sangat sering telah memunggungkan sesuatu di belakang kita.
Ternyata si ‘tas punggung’ itu hanya diam seribu bahasa. Dia manut dan patuh. Mau diapakan atau dibagaimanakan, dia pasti diam saja.
Dipunggungkan namun sangat Berjasa
Jika Anda sungguh merenungkan, ternyata tas punggung itu telah turut mengamankan dan menyamankan identitas diri serta seluruh tata hidup Anda.
Bahkan dia telah menyimpan dengan rapi seluruh rahasia diri Anda. Dia juga cenderung untuk mengamankan harta milik Anda di balik kelenturan dirinya.
Di sana tersimpan dengan nyaman coretan bak cakar ayam berupa catatan tangan materi kuliah Anda. Juga sedikit uang seadanya untuk jajan di jalan saat akan kembali ke rumah.
Didaktika Kearifan Hidup
Jika ditilik dari aspek pengajaran hidup, ternyata sebuah tas punggung, sejatinya bagaikan seorang guru kehidupan bagi kita.
Nilai-nilai Luhur Hidup
Mengapa? Bukankah di balik kebisuan dan sunyi kata, sebuah tas punggung ternyata telah mengusung nilai-nilai luhur kehidupan kita? Bukankah…?
- Dia telah mengajarkan pada kita tentang betapa luhurnya nilai sebuah kesetiaan dan sikap patuh dalam diam.
- Dia telah mengamankan dan menyamankan identitas personal diri kita.
- Dia telah melindungi dan menaungi harta milik kita selamanya, sehingga terhindar dari terik mentari serta basah air hujan.
Amanat Hidup
Mari kita jadikan seluruh realitas hidup kita ini sebagai sebuah sekolah kehidupan.
Mengapa? Bukankah di dalam dan di balik seluruh realitas hidup ini, justru tersimpan aneka peristiwa serta pengalaman hidup yang dapat dijadikan sebagai amanat bagi manusia?
Untuk itu, mari kita hidup sadar sambil terus belajar untuk mampu memaknakan seluruh realitas hidup kita ini. Dari sinilah kita akan mampu menjadikan totalitas realitas hidup kita sebagai sebuah sekolah kehidupan.
Dalam konteks ini, seharusnya Anda dan saya layak disebut sebagai filsuf juga.
…
Kediri, 15 November 2024

