“Kelola hidup sehat, karena hidup kita adalah saluran berkat Tuhan.” – Mas Redjo
…
Dua kejadian hari Rabo kemarin itu bagai sengatan kalajengking yang membuat saya tersentak ngeri dan diingatkan untuk berhati-hati agar kita selalu fokus dengan apa pun yang sedang dilakukan.
Bagaimana tidak kaget. Peristiwa pertama adalah, ketika dikabari, bahwa seorang famili saya, Ibu A dibawa ke RS, karena duri ikan yang terangkut di tenggorokan!
Duri ikan itu tidak kunjung tertelan, meski digelontor nasi yang dikepel-kepel, lalu diminumi air. Beberapa cara dicoba, tapi tidak kunjung berhasil, sebaliknya makin sakit dan nyeri.
Ketika dibawa ke RS, dokter umum yang bertugas jaga itu tidak bisa menangani. Seharusnya, bagian dokter spesialis ‘gastroenterologi’ itu yang menangani. Sehingga Ibu A selama semalaman hingga pagi sakit ‘ketulangan’ itu sungguh tidak terperihkan!
Dari Ibu A, saya memperoleh ilmu dan pengalaman, jika sedang makan atau minum itu kita tidak boleh ngobrol, bermain hp, atau melamun. Tapi harus fokus dan konsentrasi agar tidak tersedak makanan/minuman hingga bisa menyumbat jalan nafas, dan berakibat tragis.
Saya jadi teringat dengan nasihat-nasihat bijak orangtua. Saat makan itu hindari sendok beradu dengan piring, kunyah makanan itu hingga puluhan kali agar mudah dicerna, dan jangan membuang makanan yang diibaratkan merebut rezeki dari orang miskin.
Dari (alm) Ibu B yang berbaring di rumah duka, saya menimba ilmu dan pengalaman dari suaminya yang sabar, tabah, dan rendah hati. Ia menemani istri dengan setia ke luar masuk RS, karena istrinya gagal ginjal dan cuci darah 2 kali seminggu selama hampir 4 tahun!
Dari suami Ibu B, saya belajar untuk mengelola hidup secara sehat agar kita tidak menuruti nafsu mulut. Kita makan secukupnya yang bergizi dan sebagian untuk berbagi. Tidak heran, banyak relasi dan sahabat melayat Ibu B di rumah duka.
“Mengingatkan diri sendiri dan melakukannya itu lebih bijak, ketimbang kita diingatkan orang lain, tapi diabaikan,” kata suami Ibu B lirih, mencoba untuk tabah dan ikhlas.
Saya terpekur. Nasihat Bapak itu sangat bermakna dan dalam. Mingingatkan diri sendiri, karena sadar diri itu anugerah Tuhan.
“Saya sangat bersyukur, karena diizinkan untuk mendampingi istri. Menikmati semua rasa sakit itu sebagai karunia kasih Tuhan Yesus yang disalib untuk menebus dosa kita.”
Tidak terasa mataku berkaca-kaca. Duh!
…
Mas Redjo

