Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Sadari dan Nikmatilah Apa yang ada di Sini Hari ini”
(Didaktikan Hidup Sadar)
…
Tidak sedikit manusia yang mengalami sakit jiwa di sekeliling kita, di sini pada hari ini. Karena orang-orang merasa hidupnya seolah-olah dikejar-kejar dan didera oleh ganasnya waktu, ditantang oleh arus zaman, serta dilumat oleh aneka pikiran negatif tentang aneka kekalahan dirinya di dalam hidup ini.
Jangan Melompati Pagar Hidupmu
Mengapa bisa terjadi demikian? Hal ini disebabkan orang tidak berani untuk menerima sebuah kenyataan hidup. Orang termakan oleh daya pikirannya yang serasa dikejar harta, pangkat, dan kedudukan sosial. Orang-orang ini sudah berada dalam kategori lupa diri, lupa daratan, dan lupa segalanya.
Para bijaksanawan menasihati kita agar kita ‘jangan suka melompati pagar.’ Hindarilah sikap yang tidak realistis dan mengawang-awang.
Jangan melompati pagar kesadaran kita. Jangan melompati pagar keterbatasan kita, dan jangan pula melompati pagar realitas hidup ini.
Sejumput Nasihat para Bijaksanawan
“Janganlah dahimu sampai terantuk pada bayangan masa depan, dan ekor kesadaranmu justru tertarik ke masa lalumu.”
“Jangan pernah engkau mau mengalahkan siapa pun di dalam ziarah hidupmu ini.”
“Orang-orang baik itu akan menyuguhkan kebahagiaan buatmu.”
“Orang-orang jahat itu akan memberikan segudang pengalaman pahit buatmu.”
“Orang-orang dengan perangai terburuk itu akan memberimu pelajaran hidup.”
Bahkan orang-orang terbaik itu akan menyodorkan kenangan terindah dalam ziarah hidupmu.”
(Dari berbagai Sumber)
Maka, camkanlah dengan sejumput nasihat agung ini dan simpanlah di dalam khasanah sanubarimu.
Hukum Tabur Tuai
Orang Latin beradagium “Carpen diem, quam minimum credule postore” artinya “Petiklah/nikmatilah hari ini, dan percayalah sedikit pada hari esok.”
Hiduplah sesuai realitas dan hindari pikiran yang melampaui realitas hidupmu. Karena orang bijaksana berpesan agar kita hidup tidak terbelenggu oleh bayangan dan penyesalan akan kegagalan di masa lalu serta berlebihan merindukan kebahagian di masa depan.
Ingatlah, bahwa masa lalumu telah pergi meninggalkan dirimu, dan masa depanmu bukanlah kepunyaanmu.
Janganlah kita belajar untuk terikat pada belenggu hidup relungan rantai besi masa lalu dan menarik bayangan fatamorgana. Mengapa?
Keduanya, baik masa lalu dan masa depan itu bukanlah milikmu.
“Janganlah kamu cemas akan hari esok, karena hari esok pun memiliki kecemasan tersendiri. Kesusahan sehari, cukuplah untuk sehari.”
(Mateus 6 : 34)
…
Kediri, 14 November 2024

