“Membangun semangat kepedulian itu sejak dini agar kelak anak tidak hilang rasa hormat dan bakti pada orangtua.” – Mas Redjo
..
Terpampang jelas dalam ingatan saya nasihat bijak Ibu, menjelang ia berpulang. Godaan keluarga yang utama itu ada 3. WIL untuk suami, kemewahan untuk istri, dan untuk anak itu ingin serba kemudahan.
Untuk mengatasi semua godaan itu modal utamanya adalah, mencintai dan mengasihi keluarga di atas segalanya.
“Ketika kehilangan cinta, berarti kita kehilangan kepedulian itu terhadap keluarga. Apa jadinya jika anggota keluarga itu tidak saling peduli?”
“Hal ini amat vital, karena bisa jadi sumber perselisihan, perpecahan, dan bahkan penderitaan. Sedang peduli, karena mencintai keluarga itu mengajar kita untuk memahami, sabar, dan murah hati.”
Ketika kecil, Ibu mengajari saya untuk melihat dan peduli terhadap kesusahan orang lain agar kita ringan tangan untuk membantu. Tujuannya agar kita tidak egois, tapi hidup untuk berbagi dengan tulus.
Seiring perjalanan waktu, nasihat Ibu membuka wawasan saya, bahwa membangun semangat kepedulian itu dari hati, dan ikhlas.
Dengan hidup secara prihatin dan rendah hati. Kita tidak jadi kagetan, ketika diberi rezeki berkelimpahan oleh Tuhan. Gaya hidup juga tidak berubah. Begitu pula saat dalam kesulitan, kita mudah mengucap syukur dan berterima kasih atas semua karunia-Nya. Hidup untuk berhikmat.
Dengan saling peduli, mencintai, dan mengasihi keluarga berarti kita saling mengingatkan, menguatkan, meneguhkan, dan untuk saling mendoakan. Hidup untuk memberi dan memberkati.
Dengan membangun semangat kepedulian itu pada anak sejak dini, mereka bakal bertumbuh untuk jadi pribadi yang tidak egoistis dan cinta diri, tapi pribadi yang mandiri dan murah hati.
Sejatinya semangat kepedulian itu harus ditumbuh-kembangkan di hati dan dirawat dengan baik agar kita saling menghargai dan menghormati satu sama yang lain! Hidup saling mengasihi, dan bahagia!
…
Mas Redjo

