Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Kesadaran adalah agen perubahan terbesar.”
(Eckhart Tolle)
…
Bagi para pengendara mobil, keberadaan kaca spion itu sangat penting untuk memantau area-area yang tidak dapat dijangkau oleh pandangan matanya. Tanpa alat bantu tersebut, pengendara berisiko mengalami atau bahkan membuat orang lain celaka. Ada benda-benda yang tidak terjangkau oleh ekor mata pengendara sekalipun, demikian amanat pada paragraf awal dari tulisan Eileen Rachman dan Emilia Jakob, konsultas ahli SDM harian Kompas lewat tulisan berjudul, “Titik Buta” dalam Kepemimpinan. Kompas, Sabtu, (9/11/2024).
Titik Buta adalah Sisi Lemah Manusia
Tulisan ini bagaikan pijar titik-titik api beterbangan yang mengingatkan dan bahkan menyadarkan manusia, bahwa memang ada dan terdapat sudut-sudut lemah di dalam diri kita.
Ada Area Buta
Bisa jadi, saya dan Anda di suatu kesempatan akan terkaget-kaget, saat seorang mengomentari tentang siapakah kita yang sesungguhnya menurut persepsi beliau.
Seringkali kita merasa diri sudah super dan serba sempurna, padahal di sisi lain, tidak sedikit orang yang akhirnya tersingkir terbuang, karena ulah dan perangai brutal kita. Bahkan ada orang yang meninggalkan kita, karena merasa dilecehkan atau tidak diacuhkan kehadirannya.
Sebagai seorang sahabat, mungkin Anda merasa sikap dan cara bertindak Anda sudah sempurna, namun justru banyak orang terluka oleh kata-kata atau tindakan Anda.
Kelemahan yang tidak Disadari
Hal yang paling membahayakan, justru tatkala Anda dan saya tidak menyadari akan kelemahan sendiri.
Setiap hari kita akan melakukan hal yang sama dan sejauh itu justru suasana hidup kita akan kian parah, karena tindakan arogansi Anda dan saya yang terselubung itu.
Si Pembunuh Senyap
Bahkan titik-titik buta itu tidak saja berupa perbuatan atau tindakan, tetapi bisa juga lewat nada suara. Nada suara yang dengan sengaja Anda naikkan dengan tujuan memberikan penegasan, namun dapat dipersepsi oleh orang-orang lain sebagai sebentuk arogansi dan sikap main kuasa.
Kita perlu Berubah
Dalam hidup ini kita memang perlu berubah. Yakinilah, bahwa tidak seluruh tindakan dan tuturan kita sudah sempurna.
Untuk itu, kita sangat membutuhkan ruang refleksi mendalam yang mampu menyadarkan kita, bahwa tidak seluruh tindakan kita itu sudah sempurna.
Untuk Tujuan itu Maka:
- Sadari, siapakah sesungguhnya diriku ini di antara orang-orang lain.
- Dengarkan dan pahami maksud serta niat-niat baik dari orang-orang lain di sekitarku.
- Bersikap dan bertindaklah lemah lembut serta rendah hati di antara orang-orang lain.
- Beranikah saya untuk bersikap kesatria dengan mengakui kesalahan di hadapan orang-orang lain?
- Berusahalah agar saya segera berdamai dengan orang-orang lain di sekitarku.
Konklusi Sempurna
Sebagai nanusia, kita tidak boleh lupa untuk berbenah diri. Mengetahui dan menyadari penuh, bahwa kita memiliki titik buta adalah langkah pertama. Kita perlu menyelaraskan pikiran, perasaan, dan dampaknya terhadap orang lain, demikian amanat paling akhir dari kedua konsultan ahli SDM Kompas.
“Engkau mampu melihat selumbar di dalam mata saudaramu, namun balok di matamu tidaklah kau lihat.”
(Yesus Kristus)
…
Kediri, 11 November 2024

