Bagian 122
Konsep pengorbanan dalam konteks Gereja Katolik memiliki banyak segi, meliputi dimensi teologis, liturgis, dan moral. Katekismus Gereja Katolik (KGK) memberikan sebuah eksplorasi yang komprehensif mengenai tema ini, khususnya dalam kaitannya dengan pengorbanan Kristus dan Ekaristi.
- Definisi dan Signifikansi Kurban: Kurban, dalam pengertian yang luas, dipahami sebagai sebuah persembahan yang diberikan kepada Allah, yang menandakan sebuah relasi ketergantungan dan rasa syukur. KGK menekankan, bahwa gagasan tentang pengorbanan berakar kuat dalam Perjanjian Lama, di mana berbagai bentuk pengorbanan dilakukan, khususnya dalam konteks perjanjian antara Allah dan umat-Nya (KGK 610). Tujuan utama dari pengorbanan-pengorbanan ini adalah untuk mengekspresikan pengabdian dan untuk mencari pendamaian dengan Allah.
- Pengorbanan Kristus: Inti dari kepercayaan Kristen adalah pemahaman, bahwa kematian Kristus di kayu salib adalah pengorbanan yang definitif. Katekismus menjelaskan, bahwa pengorbanan Yesus adalah unik, karena merupakan persembahan yang sempurna dan penggenapan dari semua pengorbanan sebelumnya. Melalui penderitaan dan kematian-Nya, Yesus menebus umat manusia, membuka jalan keselamatan (KGK 613). Katekismus menyatakan, “Pengorbanan Kristus adalah sumber dari semua sakramen” (KGK 610), menyoroti sifat pengorbanan Ekaristi, yang dipandang sebagai penyajian kembali pengorbanan Kristus yang satu.
- Ekaristi sebagai Kurban: Ekaristi memiliki tempat sentral dalam ibadah Katolik, yang digambarkan sebagai “sumber dan puncak kehidupan Kristen” (KGK 1324). Dalam perayaan Ekaristi, Gereja percaya, bahwa kurban Kristus dihadirkan. Katekismus mengajarkan, “di dalam Ekaristi, kurban Kristus jadi sungguh-sungguh hadir” (KGK 1362), yang memungkinkan umat beriman untuk berpartisipasi dalam tindakan penebusan Kristus. Pemahaman sakramental tentang kurban ini tidak hanya menekankan aspek peringatan, tapi juga kehadiran Kristus yang nyata dalam Ekaristi.
- Dimensi Moral dan Spiritual: Di luar konteks liturgis, kurban juga membawa implikasi moral bagi kehidupan Kristiani. KGK mendorong umat beriman untuk merangkul kehidupan pengorbanan dalam meniru Kristus, yang melibatkan penyangkalan diri dan persembahan hidup demi orang lain (KGK 2012). Pengorbanan moral ini dipandang sebagai sebuah respons terhadap kasih Allah dan sebuah ungkapan komitmen seorang untuk menghidupi Injil.
- Aspek Komunal dari Pengorbanan: Konsep pengorbanan tidak hanya bersifat individual, tapi juga komunal. Ekaristi dirayakan dalam komunitas Gereja, yang mencerminkan keyakinan, bahwa umat beriman dipersatukan dalam pengorbanan Kristus. Katekismus mencatat, bahwa Ekaristi adalah perjamuan bersama yang memperkuat ikatan persatuan di antara para anggota Gereja (KGK 1396).
Singkatnya, konsep pengorbanan dalam tradisi Katolik sangat terkait dengan pemahaman akan tindakan penebusan Kristus, kehidupan sakramental Gereja, dan panggilan moral untuk menjalani hidup yang penuh kasih dan pelayanan. Katekismus Gereja Katolik memberikan eksplorasi yang mendalam tentang tema-tema ini, khususnya dalam paragraf 610, 613, 1324, 1362, dan 2012, yang secara kolektif mengartikulasikan pentingnya pengorbanan dalam kehidupan iman.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

