“Jika perusahaan Bapak ada rezeki dan berniat melunasi hutangnya. Tolong disumbangkan ke fakir miskin.” – Mas Redjo
…
Jika ada rezeki, pesan lewat WA itu amat menohok hati AA. Sejatinya hal itu tidak ada kaitan langsung dengannya, karena ia bekerja dan menurut perintah atasan.
Riilnya, ia berhubungan langsung dengan pemasok barang. Bahkan ia yang memburu-buru pemasok, jika telat pengirimannya.
Kini perusahaan tempatnya bekerja seperti lepas tangan. Sehingga ia malu hati dan terbebani. Apalagi pesan WA itu amat berat. Sedang ia mengais rezeki, digaji perusahaan. Duh!
Rasa bersalah dan kekhawatiran itu membuat dadanya menyesak sakit. Ia tidak bisa membayangkan, jika keluarganya terkena imbas pesan WA itu. Seandainya perusahaan lalu minim order, rezeki seret, dan gulung tikar? Karena menghambat atau mengambil rezeki untuk fakir miskin…
Ia memejamkan mata. Dihelanya nafas panjang. Ia tidak mampu membayangkannya, jika kenyataan pahit itu jadi nyata.
Tidak hanya itu. Karena ia tinggal satu komplek dengan si pemasok barang perusahaan, Bapak HM. Meski berbeda RT. Wajah ini mau dikemanakan, jika bertemu di jalan?
Ketika istrinya diceritai tentang isi WA Bapak HM ke kantor, istrinya juga tidak enak hati. Apalagi istri Bapak HM itu teman senam istri di lapangan komplek.
“Kita sowan ke rumahnya, Mas, terus terang. Kita yang tanggung jawab. Kita cicil, karena Mas yang order ke Bapak HM,” saran istri.
Menanggung hutang, karena kantor lepas tangan?
Tiba-tiba terpikir olehnya untuk ke luar kerja, lalu membuka usaha sendiri dan mandiri. Sewa lapak dan buka tenda. Bisa jadi persoalan kantor itu tantangan untuk saya agar ke luar kerja dan mandiri?
Ia lulusan boga dan berpengalaman masak. Tidak hanya dari keluarga istri masakannya dipuji, tapi juga warga RT, ketika arisan diadakan di rumah, dan ia yang memasak.
Ia seperti disengat kalajengking, dan disadarkan dari kenyamanan tidur panjang. Saatnya ia mandiri. Ia harus berani untuk memulai.
Semangat optimisme itu makin meneguhkan hatinya.
Semoga Tuhan memberkati.
…
Mas Redjo

