“Adik Jlitheng Ireng” itu sapaan (nackname) saya sejak dilahirkan. Kakak saya menyapa saya seperti itu. Saya terlahir dengan warna kulit ‘dark-brown’, coklat gelap. Kakak saya dipanggil ‘sinyo’ oleh orang desa. Karena kulitnya bersih, putih dan gemuk. Pokoke ‘ngangeni’. Santun dan bahasa Kromo Inggilnya tidak lekang oleh waktu.
Watak saya lebih terbuka, agak keras, sehingga yang tidak suka akan mengatakan, “wis ireng ngeyel pisan.” Selalu ada buntutnya koq ‘bedo karo kakange’ (beda dengan kakaknya).” Serrrr .. di dada.
Semakin sadar saya makin melihat … “Iya, ya… koq beda dengan Kakak.” Tapi hal itu hanya saya simpan di hati sampai hari ini. (Tulisan ini adalah yang pertama dan tak akan dikatakan lagi). Sebab ada kharakter yang saya sukai dari kata Jlitheng itu … yakni pemberani, tidak mudah stress, dan membantu wawasan untuk orang lain.
Saya mulai bisa ke luar dari himpitan hati, ketika saya kelas 3 SMP. Pernah ikut pentas wayang orang remaja dan saya didapuk sebagai bethoro Kresno. Werkudoro menyapa Kresno dengan sebutan … “Jlitheng Kakangku.” Sejak itu sebutan itu seperti menempel di hati.
Tetaplah jadi dirimu sendiri, temukan kekuatan yang kamu miliki, … maka kamu akan jadi orang. Jlitheng itu menemaniku sampai hari ini, setia dalam suka dan duka.
Salam sehat.
…
Jlitheng

